Bacaan Injil Luk 21:1-4
Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.
Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.
Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”
Renungan
Hari ini kita dipertemukan dengan dua bacaan yang berbicara tentang sikap hati yang sama: Kesetiaan dalam hal-hal kecil dan keberanian mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, bahkan ketika yang kita miliki terasa sedikit.
Dalam bacaan pertama, kita melihat Daniel dan ketiga sahabatnya hidup sebagai tawanan di negeri asing. Daniel menolak makan minum yang lezat dari istana Raja Babel. Keputusan soal pilihan kecil sehari-hari. Daniel setia dalam hal kecil, setia menjaga hatinya tetap terpaut pada Tuhan. Bacaan pertama ini mengingatkan kita bahwa kesucian bukan lahir dari tindakan besar, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari, kejujuran di tengah tekanan, kesetiaan pada tugas, serta keberanian untuk menolak hal-hal yang mungkin tampak kecil tetapi berpotensi menggerogoti iman kita.
Lalu dalam injil, Yesus menatap seorang janda miskin. Bukan persembahannya yang menarik perhatianNya, tapi ketulusan hatinya. Dua peser itu hampir tidak berarti apa-apa dibandingkan persembahan orang-orang kaya. Namun dalam mata Yesus, ia memberi lebih banyak. Karena ia memberi dari kekurangannya bahkan seluruh nafkahnya. Dihadapan Tuhan, nilai persembahan bukan terletak pada jumlahnya, tetapi pada ketulusan hati kita. Janda miskin itu mengajarkan kita tentang kepercayaan yang tetap kepada Allah. Ia tahu hidupnya rapuh. Ia tahu dirinya bergantung pada belas kasih Tuhan dari hari ke hari. Justru dari kerapuhan itu ia berani memberi. Ia yakin bahwa dengan memberi ia membuka dirinya pada penyelenggaraan Allah. Kedua bacaan ini memberi kita satu pesan yang sangat dalam: bahwa Tuhan melihat hati, bukan hasil; Ia melihat kesetiaan, bukan kemegahan. Dan justru melalui kesetiaan yang sederhana serta persembahan yang kecil tetapi tulus, ia menumbuhkan berkat yang berlipat ganda.
Dalam dunia kita sekarang yang serba cepat, serba sibuk, dan serba menuntut, seringkali kita merasa tidak punya banyak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kita merasa terlalu terbatas, terlalu sibuk, terlalu kecil/sedikit. Tapi hari ini injil menyakinkan kita bahwa Tuhan tidak menuntut hal besar. Ia hanya meminta hati yang mau setia dan mau memberi menurut kemampuan kita, bukan menurut ukuran dunia. Mungkin kita tidak bisa memberi banyak waktu untuk berdoa, tetapi kita bisa memberi lima menit dengan hati yang sungguh. Mungkin kita tidak bisa membantu banyak orang, tetapi bisa menolong satu orang yang Tuhan hadirkan hari ini. Mungkin kita tidak bisa melakukan yang kecil dengan kasih yang besar. Kita memberi dari kekurangan, dari keterbatasan, dari pergumulan, dari keletihan, justru disitulah persembahan kita menjadi seperti dua peser janda miskin itu: kecil di mata manusia, tetapi sangat berharga di mata Tuhan.
Pada peringatan Santo Andreas Dung Lac dan kawan-kawan, para martir Vietnam hari ini, kita diajak untuk meneladani mereka bukan dengan mencari penderitaan, tetapi dengan menghidupi iman dalam kesederhanaan. Para martir memberi seluruh hidupnya. Janda miskin memberi seluruh nafkahnya. Daniel memberi kesetiaan hatinya. Kita pun dipanggil untuk memberi seluruh yang kita bisa berikan hari ini, apa pun bentuknya.
Semoga kita berani mempersembahkan hati ini kepada Tuhan dengan apa adanya, dengan tulus, dengan rendah hati. Dan semoga dari hal-hal kecil yang kita persembahkan, Tuhan menumbuhkan kebijaksanaan, kedamaian, dan kekuatan bagi hidup kita, sebagaimana Daniel dan Janda miskin serta para martir yang kita peringati hari ini. Amin. Tuhan memberkati.(RD.Richardus Pangkur)