Bacaan Injil Luk 21:34-36
Dalam pengajarannya, Yesus bersabda, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.
Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
Renungan
Saudara-saudari seiman yang terkasih, bacaan Injil pada hari ini berisi tentang nasihat Yesus supaya berjaga-jaga. Berjaga-jaga adalah pengingat agar kita memiliki sikap antisipatif atau mawas diri pada kenyamanan dan kenikmatan yang disajikan oleh dunia. Dengan demikian kita diharapkan agar tetap menjaga kemurnian hati yang menjadi tempat bersemayamnya Allah dan nurani manusia.
Dua hal yang diwanti-wanti oleh Yesus, antara lain: Pertama, pesta pora dan kemabukan. Berpesta sama sekali tidak dilarang oleh Yesus,
namun pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat. Dengan berpesta, kita sedang membangun relasi sosialĀ dalam jejaring yang luas dengan sesama. Dalam konteks pesta, sajian makanan dan minuman terbaik oleh penyelenggara pesta adalah hal yang lazim. Berpesta yang wajar adalah cara kita untuk berekreasi serta menghibur diri di tengah kepadatan pekerjaan. Akan tetapi, berpesta pora lebih diasosiasikan dengan
perayaan menghamburkan-hamburkan uang, waktu, tenaga dan gaya hidup dengan tujuan kesenangan semata.
Di sini, Yesus hendak menyampaikan bahwa pesta dan gaya hidup yang sederhana juga membawa hati yang gembira, tanpa harus dibuat dengan megah dan meriah. Justru di dalam kesederhanaanlah, kemeriahan sesungguhnya dapat dirasakan oleh hati.
Kedua, bahaya akan kepentingan diri sendiri atau kenikmatan duniawi. Menjadi salah kaprah ketika perayaan sukacita untuk kegembiraaan batin dibuat demi pencitraan sosial. Ada bahaya yang sangat kuat demi tercapainya pengakuan sesama yakni memaksakan kemampuan diri. Berpuas diri dengan perkataan orang lain hanya menciptakan kebahagiaan sesaat dan semu. Perihal pesta, merupakan ekspresi hati penuh
syukur dan gembira yang ingin dibagikan agar turut dirasakan oleh sesama dan bukan sebaliknya.
Ketiga, menghadapi dua hal di atas, Yesus memberikan sebuah tawaran iman, yakni berdoa. Berdoa adalah tindakan berkomunikasi dengan Allah seraya mengucap syukur, memohon ampun serta menyampaikan harapan dan permohonan. Dengan berdoa, kita sedang merawat hati agar luput dari keinginan mencari kebahagiaan semu, menguatkan iman agar tahan dalam tantangan serta membangun cirta manusia spiritual bukan sekadar pengakuan sosial. Selamat berahir pekan, Tuhan memberkati. (RD. Yosefan Arwandi Dadus)