Sesi Input Bapak Uskup dalam rangkaian Sidang Pastoral Post-Natal Keuskupan Labuan Bajo menjadi salah satu momen reflektif dan strategis yang menegaskan arah Gereja lokal ke depan. Pada sesi yang berlangsung pukul 11.00–11.45 WITA tersebut, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menyampaikan pandangan pastoralnya dengan dimoderatori oleh Rd. Ardus Tanis.
Mengawali pemaparannya, Mgr. Maksimus Regus mengajak seluruh peserta untuk memaknai Tahun Persekutuan Sinergis sebagai keberanian mengambil “jalan lain”, sebagaimana kisah Tiga Majus dari Timur, namun dalam perspektif yang positif dan kontekstual. Menurutnya, inti tahun sinergis terletak pada panggilan Gereja untuk menjadi komunitas yang dinamis, saling terhubung, dan bergerak bersama dalam Roh.
Uskup Maksimus menyoroti realitas Keuskupan Labuan Bajo yang berada dalam pusaran tantangan kompleks—mulai dari budaya, ekonomi, politik, ekologi, hingga pariwisata. Dalam konteks ini, persekutuan dan sinergitas tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus nyata dalam tindakan pastoral yang konkret dan relevan. “Gereja bukan sekadar ada, tetapi hidup,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tema persekutuan sinergis menampilkan wajah Gereja yang inklusif, dinamis, dan transformatif. Namun, transformasi sejati, menurutnya, harus dimulai dari diri sendiri dan membawa dampak nyata bagi sesama.
Dalam pemaparan pokok pikirannya, Mgr. Maksimus menggarisbawahi tiga dimensi persekutuan sinergis. Pertama, persekutuan yang menghidupkan, yakni persekutuan yang tidak statis, tetapi terus bertumbuh dan melahirkan kepekaan. Sinodalitas membentuk Gereja yang mendengarkan, bergerak dari pola elitis menuju jati diri sebagai people of God, dengan penekanan pada kebersamaan, bela rasa, keadilan, dan pengampunan.
Kedua, persekutuan yang menggerakkan. Ia mengingatkan adanya godaan untuk berjalan sendiri dalam pelayanan. Sinergi justru mengundang Gereja untuk melangkah bersama, menyatukan khotbah dan aksi, serta menjadikan pastoral sebagai gerak kolektif, bukan sekadar deretan program. Bagi Keuskupan Labuan Bajo, sinergi nyata dalam kerja sama lintas bidang pastoral dalam satu misi bersama.
Ketiga, persekutuan sinergis sebagai undangan ilahi, yakni panggilan dari Tuhan sendiri untuk berpartisipasi aktif dalam karya pastoral Gereja.
Sebagai penegasan, Uskup Maksimus Regus mengajak seluruh elemen keuskupan untuk bergerak dari spirit menuju gerakan nyata, dari tema menuju transformasi. Ia menilai Keuskupan Labuan Bajo memiliki kesempatan historis untuk membangun Gereja yang berdaya, hidup, dan penuh pengharapan di tengah dinamika zaman.