Hari Raya St Yusuf Suami Maria

Bacaan Injil Matius 1:16.18-21.24a

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”
Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”
Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Renungan

Hari ini kita merayakan St Yusuf Suami Maria. Dia seorang tukang kayu yang dipilih Tuhan menjadi ayah pengasuh dari Tuhan Yesus. Santo Yusuf dikenal sebagai pria yang saleh. Ketika ia mendapati Maria mengandung sebelum mereka hidup bersama, ia mengalami kebingungan yang besar. Namun, kesalehannya membuat ia tidak mengikuti godaan kecurigaan. Alih-alih mempermalukan Maria di depan umum, ia memilih untuk meninggalkan Maria secara diam-diam demi menjaga nama baiknya. Dari sini kita belajar untuk selalu mengedepankan belas kasih dan ketenangan saat menghadapi situasi yang sulit dimengerti.

Setelah menerima pesan dari malaikat Tuhan melalui mimpi, Yusuf menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Ia tanpa ragu-ragu mengambil Maria sebagai istrinya. Yusuf adalah sosok yang mau merenungkan pesan Tuhan dan segera bertindak sesuai kehendak-Nya. Ia menerima peran sebagai ayah piara Yesus, memberikan perlindungan, kewibawaan, dan pelayanan bagi Keluarga Kudus. Ketaatan Yusuf adalah bentuk persatuan rohaniah yang kuat dengan rencana keselamatan Allah.

Sebagai seorang tukang kayu, Yusuf mengajarkan bahwa kesucian dapat dicapai melalui pekerjaan sehari-hari. Gereja menghormatinya sebagai Santo Yusuf Pekerja untuk menekankan martabat pekerjaan manusia. Melalui kerja kerasnya, ia tidak hanya menafkahi keluarganya secara fisik tetapi juga berpartisipasi dalam karya penyelamatan Allah. Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, memiliki nilai rohani jika dilakukan dengan tulus.

Peringatan St Yusuf yang kita rayakan kali ini bersamaan dengan masa Prapaskah kiranya meneguhkan niat dan langkah untuk membarui diri. Ia menjadi salah satu tokoh teladan bagi kita dalam membangun hidup yang saleh.