REKAS– Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengajak seluruh umat Katolik untuk menjadikan Ekaristi sebagai gaya hidup yang nyata melalui tindakan pembebasan, persekutuan, dan pelayanan. Pesan mendalam ini disampaikan dalam khotbah (homili) Perayaan Misa Kamis Putih di Gereja Paroki Rekas pada Kamis, 2 April 2026.
Dalam homilinya yang bertajuk “Pembebasan, Persekutuan, Pelayanan,” Mgr. Maksi menjelaskan bahwa perayaan Kamis Putih bukan sekadar mengenang perjamuan biasa, melainkan sebuah alur misteri yang utuh dari simbol darah, roti, hingga handuk.
Tiga Pilar Iman: Darah, Roti, dan Handuk
Uskup Maksi membedah tiga poin utama berdasarkan bacaan Kitab Suci malam itu. Pertama adalah Pembebasan, yang disimbolkan dengan darah anak domba dalam peristiwa Paskah pertama. Ia menekankan bahwa keselamatan dari Allah tidak boleh membuat umat menjadi pasif, melainkan harus menggerakkan mereka untuk berziarah dan menghadirkan perlindungan serta harapan bagi sesama.
Kedua, Persekutuan. Merujuk pada surat Rasul Paulus, Uskup menjelaskan bahwa roti Ekaristi adalah kehadiran nyata Kristus yang bersifat pro-existence, yaitu hidup yang dipecah dan diberikan kepada orang lain. “Ekaristi selalu mendorong kita keluar—menjadi tanda kasih di tengah dunia,” ungkapnya.
Ketiga, Pelayanan. Mgr. Maksi menyoroti tindakan Yesus membasuh kaki para murid sebagai simbol kasih yang total (eis telos) dan kerendahan diri (kenosis). Baginya, handuk menjadi simbol bahwa Ekaristi menemukan wajahnya yang paling nyata saat diwujudkan dalam pelayanan kepada mereka yang paling sulit dikasihi.
“Malam ini kita diajak bertanya: apakah Ekaristi yang kita rayakan sungguh menjadi gaya hidup? Apakah kita mau ‘dipecah’ seperti roti dan ‘membasuh kaki’ mereka?” tutur Mgr. Maksi dalam pesannya kepada umat.
Kehadiran Perdana yang Bersejarah
Perayaan Misa Kamis Putih ini menjadi momen istimewa bagi umat Paroki Rekas. Pastor Paroki, RP Peter Due, SVD, mengungkapkan rasa senang umat karena ini merupakan kali pertama perayaan Kamis Putih di paroki tersebut dipimpin langsung oleh seorang Uskup.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Yakobus Agus, menyebut kehadiran Mgr. Maksi sebagai bentuk komitmen gembala untuk berjalan bersama umat, terutama dalam memperkuat persaudaraan di “Tahun Persekutuan Sinergis 2026”.
Misa yang berlangsung meriah ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Romo Frans Nala. Usai perayaan Ekaristi, Mgr. Maksi bersama umat melanjutkan prosesi Sakramen Mahakudus dari gereja baru menuju Gereja Tua (Gereja Devosional) untuk melaksanakan doa tuguran secara bergilir.

