Syukuran 25 Tahun Imamat Romo Beni Hengki: Cahaya Kristus dari Pesisir Bari

BARI – Suasana penuh khidmat dan keharuan menyelimuti tenda acara di halaman Gereja Paroki St. Martinus Bari pada Sabtu, 11 April 2025. Perayaan Ekaristi syukur perak imamat Romo Beni Hengki tersebut dihadiri langsung oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, puluhan rekan imam, serta jajaran pemerintah daerah termasuk Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi dan Wakil Bupati Yulianus Weng. Perayaan yang menandai 25 tahun perjalanan pengabdian ini mengusung tema keteguhan dalam panggilan di tengah berbagai dinamika pastoral.

Kotbah Uskup Labuan Bajo: Penyelenggaraan, Pemurnian, dan Cahaya

Dalam kotbahnya, Mgr. Maksimus Regus menyoroti sosok Romo Beni sebagai pribadi yang mengalami transformasi luar biasa, dari seorang yang terkesan pendiam menjadi imam yang hangat, terbuka, dan memiliki suara menggelegar saat bernyanyi. Uskup menekankan empat dimensi utama dalam merefleksikan 25 tahun perjalanan imamat.

Pertama, Penyelenggaraan Ilahi (Providensia). Uskup menggarisbawahi bahwa Tuhan secara berkelanjutan memegang tangan kanan seorang imam dalam setiap langkah pelayanannya. Meskipun tantangan seringkali membuat manusia ingin berpegang pada harta atau jabatan, tangan Tuhan tidak pernah melepaskan hambanya.

Kedua,  Pemurnian Melalui Salib (Purifikasio). Perjalanan 25 tahun bukanlah jalan yang selalu mulus, melainkan sebuah proses pemurnian layaknya emas yang diolah dalam api. Kelemahan dan luka dalam pelayanan justru menjadi sumber daya spiritual di mana rahmat Tuhan bekerja paling kuat.

Ketiga, Kehadiran Terang (Presensia Lucis). Seorang imam dipanggil untuk menjadi “Cahaya Gereja” (Lux Ecclesiae), membantu umat membaca hidup mereka dalam cahaya Injil. Uskup memuji peran Romo Beni yang selama ini hadir memberikan penghiburan bagi yang berduka dan harapan bagi yang hampir menyerah.

Keempat, Perutusan yang Teguh. Imam adalah seorang utusan yang harus berani keluar dari zona nyaman untuk kembali kepada umat, terutama mereka yang letih dan terluka di stasi-stasi terpencil. Uskup secara khusus mengapresiasi kesediaan Romo Beni untuk menjaga wilayah pesisir utara Keuskupan Labuan Bajo dan menjadi jembatan persaudaraan dengan komunitas Muslim di Bari.

Romo Beni Hengki: Bari sebagai Wujud Persekutuan Sinergis

Romo Beni Hengki dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran cinta kasih Tuhan yang nyata melalui kehadiran Uskup, rekan-rekan imam, dan umat. Ia menjelaskan alasan kuat mengapa perayaan perak ini dilaksanakan di Bari, yang sempat ia sebut sebagai “Betlehem” karena kesahajaannya.

Pemilihan Bari, ungkap romo Beni, sebagai upaya nyata untuk menghidupkan tema pastoral Keuskupan Labuan Bajo tahun ini, yaitu persekutuan sinergis yang didasarkan pada kekuatan kebersamaan. Romo Beni ingin membangun kebersamaan yang lebih solid dengan umat di enam stasi di Paroki Bari. Ia berharap perayaan ini membuat Bari semakin dikenal dan tidak lagi dipandang kecil.

Menutup sambutannya, Romo Beni menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, donatur, dan umat yang telah bekerja keras mempersiapkan perayaan ini dengan penuh antusiasme. Ia berharap kehadirannya di pesisir utara terus memberikan buah-buah keselamatan bagi masyarakat setempat.