Bacaan Injil Yoh 10:1-10
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.
Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Renungan
Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba. Ia bukan gembala yang jauh dan asing, melainkan pintu keselamatan yang terbuka, jalan masuk menuju hidup yang berkelimpahan. Pada Hari Doa Sedunia untuk Panggilan yang ke-63 ini, Gereja diajak merenungkan bahwa setiap panggilan lahir dari suara Kristus yang memanggil pribadi demi pribadi dengan kasih. Panggilan bukan pertama-tama soal memilih status hidup, melainkan menjawab suara Sang Gembala yang mengenal nama kita, menuntun, dan memberi arah. Di tengah dunia yang penuh “suara asing” — godaan kenyamanan, egoisme, dan ketakutan — murid Kristus dipanggil belajar membedakan suara Tuhan yang menuntun menuju hidup sejati.
Yesus berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Panggilan imamat, hidup bakti, maupun panggilan hidup berkeluarga semuanya berakar pada janji kelimpahan ini. Tuhan tidak memanggil seseorang untuk kehilangan hidupnya, melainkan untuk menemukan kepenuhannya dalam kasih dan pelayanan. Hari Doa Panggilan mengingatkan seluruh umat bahwa menumbuhkan panggilan bukan hanya tugas para calon imam atau biarawan-biarawati, tetapi tanggung jawab seluruh Gereja: keluarga yang menanamkan iman, komunitas yang mendukung, dan umat yang tekun mendoakan para pekerja di ladang Tuhan. Ketika Gereja menjadi rumah yang mendengarkan dan merawat benih panggilan, banyak hati muda akan berani melangkah melewati “pintu” yang adalah Kristus sendiri.
Renungan ini juga mengajak kita bertanya secara pribadi: suara siapakah yang sedang saya ikuti? Apakah saya berani membuka hati ketika Tuhan memanggil untuk melayani lebih sungguh, mengampuni lebih tulus, dan mengasihi lebih radikal? Panggilan sejati selalu berawal dari perjumpaan dengan Yesus Sang Gembala Baik, dan berbuah dalam keberanian memberi diri bagi sesama. Maka pada hari doa panggilan ini, marilah memohon agar Gereja tidak kekurangan pekerja-pekerja Injil yang kudus, murah hati, dan setia, serta agar setiap orang berani menemukan panggilannya sendiri dalam terang Kristus. Sebab bila kita masuk melalui Dia, kita tidak hanya diselamatkan, tetapi juga diutus membawa hidup berlimpah bagi dunia.