Jumat Pekan Biasa XX Peringatan St Perawan Maria Ratu

Bacaan Injil Mat 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka

dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Renungan

Injil hari ini mengandung sumber atau pegangan fundamental tentang isi iman bangsa Yahudi: “Dengarkanlah, hai orang Israel: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Inilah inti sari hidup keagamaan Yahudi sejati. Namun ada tambahannya: “Kasihilah sesa-mamu manusia seperti dirimu sendiri: Akulah Tuhan” (Im 19:18).

Dalam Injil hari ini diperlihatkan kepada kita perbedaan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang berhadapan dengan Yesus. Ia adalah Guru meskipun bukan dikenal sebagai ahli suatu sekolah Taurat tertentu. Padahal para ahli Taurat dan kaum Farisi oleh masyarakat dianggap sebagai orang-orang ahli dan intelektual. Kaum Farisi mengenal 613 perintah Taurat, yakni 5 buku Perjanjian Lama. Dari 613 perintah itu ada 248 yang bersifat positif: “kamu harus…”, dan 365 bercorak negatif: “kamu jangan…”. Dengan latar belakang ini mereka menguji atau mau menjegal ajaran atau pendapat Yesus! “Hukum manakah yang terbesar atau yang paling penting?”

Pertanyaan mereka hanya mengenai satu hukum, tetapi Yesus memberi jawaban yang lebih luas dan menyeluruh: kasih kepada Allah tidak terpisahkan dari kasih kepada sesama. Yesus menegaskan: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Jadi, sebenarnya kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama bukan asli hanya dari Yesus, melainkan dari Allah sendiri, sudah sejak Perjanjian Lama. Meski demikian ada kekhususan yang berasal dari Yesus, yaitu bahwa kedua perintah itu adalah sama. Pendorong atau motivasi kasih kita kepada sesama berasal atau bersumber dari kasih kita kepada Allah. Kasih kita kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih kita kepada sesama. Jadi kasih kepada sesama merupakan tuntutan kasih sejati kita kepada Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa kasih kepada sesama harus ada sebelum mengasihi Allah. Tidak ada kasih sejati kepada Allah, apabila merupakan kasih kepada sesama. Kasih kita kepada Allah akan sungguh menjadi asli, apabila kasih itu kita laksanakan dengan mengasihi sesama.

Bunda Maria, Santa Perawan, Ratu yang kita peringati pada hari ini adalah manusia yang secara radikal mengikuti perintah Tuhan ini. Melalui kesediaan untuk menjadi ibu Tuhan dengan rela memberikan dirinya secara total kepada rencana Allah, bunda Maria telah menunjukkan cintanya kepada Allah dan kepada sesama. MArilah kita berdoa kepada Allah agar kita sasnggup mencintai Dia dan sesama. Amin. (Rm. Ignasius Haryanto, Pr)