Mgr. Maksimus Regus Ajak OMK Labuan Bajo Menjadi Gereja yang “Berakar dan Berdampak”

Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, melakukan tatap muka dengan para pengurus Orang Muda Katolik (OMK) dari setiap paroki se-Keuskupan Labuan Bajo pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, Bapa Uskup menekankan pentingnya peran orang muda sebagai subjek utama dalam perjalanan Keuskupan Labuan Bajo yang kini baru berusia satu tahun empat bulan.

Dalam arahannya, Mgr. Maksimus menyampaikan bahwa perjalanan awal keuskupan ini adalah sebuah “perjalanan berahmat”, yang meskipun penuh tantangan, harus dihadapi dengan perspektif iman. Ia mengajak para pengurus OMK untuk tidak hanya merasa sebagai tamu, tetapi memiliki kesadaran penuh bahwa “saya adalah Gereja itu sendiri”.

Paradoks Orang Muda dan Kekuatan Keterbatasan

Mengutip kisah Nabi Yeremia, Mgr. Maksimus menjelaskan tentang “paradoks orang muda”—situasi di mana orang muda sering merasa tidak berdaya atau tidak pandai bicara karena usia mereka, namun justru dipilih oleh Tuhan untuk tugas besar.

Beliau juga merujuk pada kisah anak kecil yang membawa lima roti dan dua ikan sebagai simbol bagaimana keterbatasan yang dipersembahkan kepada Tuhan dapat menghasilkan dampak yang luar biasa bagi ribuan orang. “Gereja kita bukanlah gereja yang punya kelebihan sumber daya, tetapi dari hal yang kurang itu kita bisa melakukan banyak hal luar biasa,” tegas Mgr. Maksimus.

Tiga Fondasi: Beriman, Berakar, dan Berdampak

Uskup Labuan Bajo menggarisbawahi tiga hal penting bagi pembentukan iman OMK di tengah perubahan cepat di Labuan Bajo:

  • Beriman: Menjadi fondasi spiritual dalam setiap pelayanan di paroki.
  • Berakar: Mgr. Maksimus mengingatkan pesan dari Nunsio Apostolik agar membuat “iman berakar” (the rootedness of faith). Seperti filosofi bambu, iman harus tumbuh ke bawah terlebih dahulu agar kuat menopang pertumbuhan yang tinggi ke atas.
  • Berdampak: Meminjam moto dari Menteri Pendidikan Tinggi, beliau menegaskan bahwa kehadiran OMK harus memberikan pengaruh nyata bagi sesama, bukan sekadar menjadi elemen tambahan atau penonton di dalam Gereja.

Membangun Kultur Sinodalitas

Pertemuan yang diinisiasi oleh Komisi Kepemudaan ini diharapkan menjadi sarana formasi diri bagi para pengurus sebelum mereka memberikan dampak bagi rekan-rekan mereka di paroki masing-masing. Mgr. Maksimus berharap agar semangat kolaborasi, sinodalitas, dan solidaritas yang menjadi visi Keuskupan Labuan Bajo dapat menjadi budaya hidup yang menetap, bukan sekadar gaya sesaat.

“Kehadiran kita bukanlah sekadar kehadiran tambahan, tetapi menjadi gerak bersama Gereja kita di Keuskupan Labuan Bajo,” tutup Mgr. Maksimus dalam pertemuan yang berlangsung selama dua hari tersebut.