Keuskupan Labuan Bajo menutup Tahun Yubileum 2025 secara resmi di Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Minggu 28 Desember 2025. Perayaan penutupan ini dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus dalam misa bersama umat, bersamaan dengan perayaan Minggu Pesta Keluarga Kudus.
Turut hadir dalam perayaan ini Sekjen Keuskupan Labuan Bajo RD Frans Nala, Pastor Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo RD Laurens Sopang dan beberapa imam lainnya.
Dalam Kotbah, Uskup Maksimus mengatakan, meskipun kita menutup tahun Yubileum hari ini tetapi ziarah kita belum berakhir.
“Kita masih harus melangkah untuk berbagai macam tujuan kehidupan kita. Ada yang sudah kita raih. Ada yang belum. Ada yang tidak bisa kita dapatkan. Ada yang hampir kita dapatkan. Ada yang kita dapat dengan usaha yang keras. Ada yang mudah didapatkan dan berbagai macam hal yang kita alami dalam kehidupan sebagai keluarga-keluarga.”
Upacara penutupan Tahun Yubileum 2025 tingkat Keuskupan Labuan bajo ini dilaksanakan sesuai petunjuk umum penyelenggaraan tahun Yubileum yang ditegaskan lagi oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia melalui Koordinator Yubileum KWI dalam surat kepada para koordinator Yubileum tingkat keuskupan. Penutupan Tahun Yubileum 2025, menurut petunjuk itu, dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari Gereja-gereja Partikular (Keuskupan) hingga penutupan di Basilika Kepausan Santo Petrus di Vatikan.
Penutupan Tahun Yubileum di tingkat Keuskupan akan dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Desember 2025, pada Hari Raya Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf. Penutupan Tahun Yubileum berlangsung pada perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Diosesan di gereja Katedral, induk dari semua gereja di Keuskupan. Perayaan Ekaristi ini adalah satu-satunya Ekaristi yang menandai penutupan Yubileum dan dirayakan di Katedral.
Selanjutnya, Penutupan Tahun Yubileum di Roma akan ditandai dengan penutupan Pintu Suci utama di Basilika Santo Petrus di Vatikan, pada hari Selasa, 6 Januari 2026, pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani). Pada hari ini, dengan ditutupnya Pintu Suci di Basilika Santo Petrus di Vatican, Tahun Yubileum 2025 secara resmi berakhir bagi seluruh Gereja universal.
Tiga Ciri Khas Keluarga Kudus
Dalam lanjutan kotbahnya, Uskup Maksimus membahas cara hidup keluarga kudus Nazareth yang menjadi model bagi kehidupan keluarga-keluarga kristiani sekarang. Keluarga Yusuf, Maria dan kanak-kanak Yesus, kata dia, menjadi kudus bukan kualitas sempurna dalam banyak hal menurut cara pandang manusiawi kita.
“Jadi menjadi keluarga kudus dalam cara hidup yang ditampilkan keluarga kudus, ternyata tidak mesti ditampilkan dalam bentuk kemewahan-kemewahan, dalam kehebatan-kehebatan, dalam keluarga dapat kita katakan yang luar biasa. Ternyata tidak. Tidak harus seperti itu. Kalau pun seperti itu, itu adalah bonus.”
Ada tiga ciri khas yang membuat keluarga Yusuf, Maria dan Yesus menjadi kudus. Pertama, karena dalam kehidupan mereka sebagai keluarga ada sebuah relasi dengan karakter ilahi di dalamnya. Sebuah kepercayaan penuh pada Tuhan. Itu tampak dalam sikap Maria sejak awal. Dia katakan kepada malaikat, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” sebuah sikap penyerahan diri yang luar biasa. Yosef, meskipun awalnya ragu, tetapi kemudian menerima dan merawat Yesus dan Maria dengan luar biasa sehingga ia disebut sebagai bapak yang setia. Yesus sendiri, bertumbuh di dalam hikmat. Masa mudanya ia habiskan bersama orang tua dalam tradisi agama Yahudi yang kuat.
“Jadi ciri khas pertama dalam keluarga kudus yaitu ada karakter keilahian dalam diri dan keluarga mereka. Ini juga menjadi inspirasi bagi kita, keluarga dan kita semua. Pertanyaannya, apa yang menjadi pusat apa yang kita cari dalam keluarga kita. Banyak hal yang kita cari dalam hidup ini. Ada yang cari pangkat yang lebih tinggi. Ada yang mencari harta. Ada yang mencari kesuksesan yang lebih besar. Dan kadang kita hanya berputar-putar di situ. Dan kita kehilangan sesuatu yang berharga,” urai uskup Maksimus.
Nilai kedua dimiliki oleh keluarga kudus yaitu saling peduli di antara mereka, yaitu Yesus, Maria dan Yosef. Ketika Yesus pergi menghilang di Bait Allah, orangtuanya cari dengan penuh kekuatiran. Yusuf dan Maria Khawatir lalu mencari, bertanya.
“Ini disebut kekuatiran kudus. Dan ini tantangan bagi keluarga-keluarga kita, bagaimana menjaga kekuatiran kudus itu dalam hidup sehari-hari. kekuatiran kudus satu sama lain, gambaran dari kepedulian itu. Kepedulian itu hanya mungkin kalau keluarga-keluarga kita memiliki soliditas, jalan bersama dalam berbagai macam pengalaman hidup.”
Ciri yang ketiga dari keluarga kudus yaitu, keluarga itu dipanggil bukan hanya untuk menikmati sukacita, secara kedalam saja, tetapi keluarga itu dipanggil untuk bersaksi tentang kasih Tuhan kepada dunia, kepada yang lain. Dalam bahasa Yubileum disebut pengharapan.
“Yang membuat kita berharap yaitu keluarga-keluarga kristiani. Yang membuat Gereja memiliki harapan, yang membuat dunia masih memiliki senyuman, tawa sukacita, yaitu karena melihat keluarga-keluarga Kristiani yang bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan, kasih satu sama lain dalam keluarga dan contoh hidup yang mereka tampilkan di tengah dunia.” ungkap Uskup Maksimus.
Jadi menjadi keluarga kudus dalam cara hidup yang ditampilkan keluarga kudus, ternyata tidak mesti ditampilkan dalam bentuk kemewahan-kemewahan, dalam kehebatan-kehebatan, dalam keluarga dapat kita katakan yang luar biasa.
“Ternyata tidak. Tidak harus seperti itu. Kalau pun seperti itu, itu adalah bonus. Yang lebih penting adalah bagaimana memaknai hal-hal sederhana, bahwa keluarga itu sepenuhnya bergantung pada Tuhan, ada kepedulian di antara anggota keluarga dan memiliki contoh hidup yang membuat orang lain juga bertekun di dalam pengharapan.”
