Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus mengungkap tiga hal penting dalam refleksi atas tema perayaan satu abad Gereja Rekas, “dari Agama Menuju Spiritualitas” dalam kotbah pada Misa Perayaan Seratus Tahun Gereja Tua Paroki Rekas, Sabtu 4 Oktober 2025. Berikut adalah kotbah Uskup Maksi yang kami alih-bentuk dari rekaman suaranya.
Hari ini kita berdiri di persimpangan jalan sejarah 100 tahun berdirinya Gereja Tua Rekas. Sebetulnya kata tua ini kurang tepat karena hari ini dia sudah menjadi muda kembali. Meskipun begitu, ini bukan sekadar sebuah proses daur ulang sejarah. Tetapi sebuah kenangan dan terutama ucapan syukur kita karena cinta Tuhan yang berkelanjutan, tidak putus-putus.
Satu abad perjalanan tentu bukan sekadar angka melainkan ziarah iman yang sudah melewati banyak musim: masa awal pewartaan melalui para perintis baik para misionaris maupun misionaris awam, guru-guru yang berjalan dari kampung ke kampung untuk memperkenalkan Kristus sang Penyelamat, membaptis banyak orang, membagikan Sakramen. Juga melalui masa pertumbuhan, masa tantangan, hingga kini memasuki era baru.
Perayaan 100 tahun ini juga sebagai pahatan dari karya-karya besar Tuhan melalui kehadiran para perintis pendahulu yang telah menjejakkan kaki mereka di tempat ini untuk membawa Injil Sabda Tuhan menjadi sumber keselamatan di tempat ini. Namun hal itu tidak akan terjadi jika tempat ini bukanlah sebuah lahan yang subur. Perjalanan 100 tahun paroki i ni membuktikan bahwa Rekas ini adalah sebuah lahan yang subur bagi bertumbuhnya buah-buah keselamatan. Bahkan dari Rekas ini, ia tidak hanya menghasilkan anak tetapi juga menghasilkan cucu bahkan cicit. Hari ini beberapa pastor paroki datang menghadiri perayaan ini. Mereka adalah anak dan cucu dari paroki Rekas ini.
Jadi perjalanan 100 tahun ini adalah perjalan perjumpaan kasih Allah yang begitu kuat dan juga tanggapan kita manusia, yang meski dalam tantangan tetapi ada sepanjang waktu.
Panitia memilih tema yang bagus sekali. Ziarah dari agama menuju spiritualitas. Tentu ini adalah sebuah kesadaran bahwa kita tidak hanya berhenti pada bentuk lahiriah dari agama, apakah itu bangunan, ritual dan kebiasaan. Tetapi melangkah lebih dalam menjadikan iman sebagai pengalaman rohani yang mengubah hidup, membentuk karakter dan memberi arah pada perjalanan kita.
Bacaan-bacaan suci hari coba menawarkan kepada kita beberapa makna yang mungkin dapat kita renungkan pada perayaan istimewa ini. Pertama, perjalanan 100 tahun ini dimungkinkan karena terbentuknya fondasi iman yang kuat. Salomo dalam bacaan pertama berdoa, “Langit dan langit segala langit tidak dapat menampung Engkau. Apalagi rumah kudirikan ini.” Doa ini sangat jujur. Bait Allah yang megah hanyalah tanda, fondasi sejati bukan pada batu atau kayu atau bangunan melainkan pada Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Allah yang berjalan bersama umat-Nya, Allah yang menemani perbuatan-perbuatan umat-Nya. Begitu pula perjalan Gereja Rekas selama 100 tahun ini. Kita bersyukur untuk gedung gereja yang berdiri, altar yang kokoh dan semua tradisi liturgi yang sudah diwariskan di sini. Tetapi fondasi sejati bukan hanya tentang hal-hal itu. Fondasi yang sejati adalah Kristus sendiri yang menjadi pusat perjumpaan kita. Seperti kata Paulus, “Tidak ada seorang pun yang meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus”. Karena itu, bagi kita tanpa Kristus agama hanyalah sebuah rutinitas. Dengan Kristus agama berubah menjadi jalan menuju spritualitas yang hidup.
Kedua, perjalanan satu abad Gereja Tua Paroki Rekas dimungkinkan karena Gereja umat Tuhan berfungsi sebagaimana mestinya. Ada dimensi fungsionalitas. Paulus dalam bacaan Kedua menegaskan, “Kamu adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu.” Dengan kata lain, Gereja tidak berhenti pada gedung. melainkan fungsi umat Allah sebagai bait rohani. Inilah tantangan setelah 100 tahun. Apakah Gereja Rekas hari ini dikenal dengan bangunan yang berusia satu abad dengan tekad kita untuk menjadi paroki ini dengan lingkungannya sebagai situs rohani. Atau dia harus melewati sebuah proses transformasi untuk berfungsi sebagai tanda kasih Allah yang nyata bagi kehidupan. Jadi paroki, gereja tua dan lingkungannya ini harus melakukan transformasi dari situs menjadi spiritualitas yang hidup. Fungsionalitas berarti Sabda Allah tidak berhenti di telinga kita saja tetapi mengalir dalam tindakan, dalam kejujuran, dalam kerukunan di antara keluarga di tengah masyarakat, dalam kepedulian pada orang miskin dan kecil, dalam kesediaan anak-anak muda kita untuk berani bermimpi secara benar. Umat Rekas dikenal bukan pertama-tama karena 100 tahun bangunan gereja ini, melainkan karena 100 tahun umatnya menjalankan fungsi sebagai saksi Kristus di tengah masyarakat.
Makna ketiga, kesetiaan fidelitas. Injil hari ini diawali dengan sebuah kalimat menarik, “bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku Tuhan-Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa.” Yesus memberi perumpamaan tentang membangun rumah yang satu di atas batu yang lain di atas pasir. Angin, hujan dan badai datang, hanya rumah di atas batu yang bertahan. Dan rumah yang bertahan itu salah satu kuncinya adalah Fidelitas, kesetiaan. Memang mencari orang yang setia pada jaman sekarang sulit sekali.
Kesetiaan bukan hanya berdoa dengan bibir melainkan mendirikan hidup di atas Sabda Tuhan. Gereja Rekas sudah bertahan 100 tahun karena ada umat ada komunitas yang setia. Setia menjaga iman meski sulit, setia berdoa di tengah penderitaan, setia mewariskan iman ke generasi-generasi berikut. kesetiaan ini harus diteruskan. Generasi sekarang dipanggil bukan sekadar mewarisi agama para leluhur tetapi menghidupi spiritualitas yang kokoh, yang kreatif tetapi juga relevan. Kita belajar dari Kristus sendiri: spiritualitas yang setia pada Sabda akan bertahan dalam kesetiaan sepanjang zaman
Inilah ziarah kita selama 100 tahun. Ziarah umat Tuhan di Paroki Rekas. Ziarah Gereja lokal kita. Ziarah para misionaris pendahulu kita. Dari agama yang terikat pada bentuk lahiriah menuju spiritualitas yang menyentuh hati, mengubah hidup dan membangun dunia. Kita bersyukur bukan karena Gereja Rekas telah berdiri 100 tahun tetapi karena Roh Kudus terus memimpin kita berfondasi pada Kristus, berfungsi dalam kasih dan kesetiaan dalam perutusan. Hari ini kita bersukacita atas kasih Tuhan yang tiada berkesudahan, cinta Tuhan yang terus berkelanjutan. Proficiat Umat Paroki Rekas yang merayakan 100 tahun perjalanan rohani, perjalanan spiritual, dan bagi kita semua Gereja Katolik Manggarai Raya. Kita memohon rahmat dan berkat Tuhan agar paroki ini terus bertumbuh, teristimewa menjadi tanda kehadiran kasih Tuhan di tengah dunia.