Injil Markus 6:53 -56
Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Renungan: Mengenali dan Menjamah Kuasa Kasih Tuhan
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, bacaan Injil hari ini memperlihatkan sebuah pemandangan yang luar biasa tentang iman yang aktif dan penuh pengharapan. Segera setelah Yesus mendarat di Genesaret, orang-orang langsung mengenali-Nya. Pengenalan ini bukan sekadar tahu nama, melainkan sebuah pengakuan akan otoritas dan kasih Allah yang hadir dalam diri Yesus.
Ada tiga hal penting yang bisa kita renungkan sebagai umat Katolik: Pertama, Iman yang Menggerakkan. Orang-orang di Genesaret tidak tinggal diam. Mereka berlari-lari ke seluruh daerah untuk membawa orang sakit kepada Yesus. Bagi kita, ini adalah panggilan untuk tidak egois dalam beriman. Iman Katolik sejati seharusnya menggerakkan kita untuk membawa sesama yang sedang menderita, sakit, atau berbeban berat kepada hadirat Tuhan melalui doa dan tindakan kasih.
Kedua, kerendahan Hati dalam Memohon. Menarik untuk diperhatikan bahwa mereka memohon agar diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Mereka merasa tidak layak untuk meminta lebih, namun mereka percaya sepenuhnya bahwa bahkan kontak terkecil sekalipun dengan Tuhan sudah cukup untuk mendatangkan kesembuhan. Dalam tradisi kita, hal ini mengingatkan kita pada kerendahan hati saat menerima Sakramen-Sakramen, terutama Ekaristi. Kita percaya bahwa dalam rupa roti yang sederhana, seluruh kuasa ilahi hadir menyembuhkan jiwa kita.
Ketiga, Yesus yang Selalu Tersedia. Ke mana pun Yesus pergi—ke desa, kota, atau kampung—Ia selalu menjumpai mereka. Tuhan tidak pernah membatasi diri-Nya bagi kelompok tertentu saja. Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Ini adalah penghiburan bagi kita bahwa rahmat Allah tersedia bagi siapa saja yang mau datang dengan iman yang tulus.
Di tengah kesibukan dan persoalan hidup kita, apakah kita masih memiliki gairah untuk mencari Yesus seperti orang-orang di Genesaret? Mari kita belajar untuk mengenali kehadiran-Nya dalam sesama, dalam Sabda-Nya, dan dalam Sakramen-Sakramen Gereja. Percayalah, jamahan kasih-Nya selalu mampu memulihkan apa yang hancur dalam hidup kita.
Semoga Tuhan memberkati niat baik kita. Amin.