LABUAN BAJO– Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo menyelenggarakan kegiatan Temu Katekis-Katekista Sekeuskupan Labuan Bajo yang bertempat di Rumah Pusat Spiritualitas Unio, Sabtu, 7 Maret 2026. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 250 katekis yang datang dari berbagai paroki di seluruh wilayah Keuskupan Labuan Bajo.
Meskipun cuaca di lokasi kurang bersahabat, semangat para peserta tidak luntur untuk mengikuti rangkaian acara yang bertujuan memperkuat konsolidasi dan spiritualitas para pewarta Injil di keuskupan tersebut. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Uskup Labuan Bajo sebagai pembicara utama, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi, S.Pd.

Ujung Tombak dan Support System Gereja
Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo RD Hermen Sanusi dalam sapaan pembuka kegiatan menekankan bahwa para katekis merupakan “ujung tombak” dalam tugas penting mewartakan Injil, khususnya dalam empat tugas gereja: kerygma (pewartaan), leiturgia (liturgi), koinonia (persekutuan), dan diakonia (pelayanan). Ia menyatakan bahwa kehadiran para katekis sangat krusial bagi perjalanan keuskupan yang sinodal, solid, dan solider.
Senada dengan hal tersebut, Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus dalam sambutannya menyebut para katekis sebagai “support system” utama dalam tugas kegembalaannya.
“Bapak dan Ibu adalah wajah pertama Gereja di tengah umat. Umat lebih sering berjumpa dengan Anda daripada dengan kami uskup atau pastor,” ungkap Bapa Uskup.
Beliau juga memberikan penghormatan khusus kepada para katekis senior yang ia sebut sebagai “pionir iman” yang telah meletakkan dasar bagi terbentuknya keuskupan baru ini.
Tiga Dimensi Spiritualitas Katekis
Dalam arahannya, Uskup Labuan Bajo mengutip surat Rasul Paulus kepada Timoteus, “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu,” sebagai refleksi bagi para katekis untuk terus menghidupi panggilan mereka,. Beliau menekankan tiga dimensi spiritualitas yang harus dimiliki seorang katekis:
1. Spiritualitas Murid: Sebelum menjadi pengajar, katekis harus terlebih dahulu menjadi murid di hadapan Yesus dan mendengarkan-Nya melalui telinga iman,.
2. Spiritualitas Komunitas: Menjadi bagian dari “detak jantung” Gereja dan hidup dalam kebersamaan dengan umat.
3. Spiritualitas Misioner: Memiliki semangat untuk terus bergerak mewartakan kebangkitan Tuhan kepada sesama.

Tantangan Zaman dan Pembentukan Paguyuban
Pertemuan ini juga menyoroti tantangan modern seperti digitalisasi dan “diktatur relativisme,” di mana nilai-nilai kebenaran sering kali dianggap relatif. Oleh karena itu, para katekis diajak untuk tidak hanya mengajarkan iman sebagai teori, tetapi mewariskannya sebagai pengalaman hidup yang nyata kepada generasi muda,.
Sebagai langkah konkret untuk memperkuat persaudaraan, agenda utama pertemuan ini adalah pembentukan Paguyuban Katekis Keuskupan Labuan Bajo. Paguyuban ini diharapkan menjadi ruang bagi para katekis—baik senior maupun junior—untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan,.
Rangkaian acara ditutup dengan perayaan Ekaristi (Misa Putusan) dan makan siang bersama, menandai komitmen baru para katekis untuk kembali ke paroki masing-masing dengan semangat yang telah berkobar kembali.