Temu Katekis Sekeuskupan Labuan Bajo dilaksanakan di Rumah Spiritualitas Unio, Sabtu 7 Maret 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo. Lebih dari 250 katekis-katekista hadir dalam kegiatan setengah hari ini. Berikut adalah beberapa catatan yang dirangkum dari sambutan-sambutan pada kegiatan itu, diolah dengan bantuan notebooklm.
1. Di Balik Hujan dan Semangat yang Tak Padam
Pertemuan para katekis se-Keuskupan Labuan Bajo berlangsung dalam suasana yang sarat makna dan simbolisme alam. Meskipun rintik hujan membasahi bumi Manggarai Barat, suasana di dalam ruangan justru terasa hangat dan hidup. Uskup Labuan Bajo memaknai cuaca tersebut bukan sebagai kendala, melainkan sebagai “hujan yang menyuburkan”—sebuah berkat yang memupuk antusiasme para peserta.
Di tengah deru modernisasi Labuan Bajo yang kian pesat, kita sering kali luput memperhatikan mereka yang bekerja dengan sunyi di garda terdepan iman. Pernahkah kita merenungkan bagaimana Injil bisa tetap bergema di pelosok-pelosok terpencil yang bahkan jarang dijangkau oleh sorotan publik? Mereka adalah para penjaga api iman, para katekis yang memastikan bahwa sejarah keselamatan bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan realitas yang hidup di jantung komunitas basis.
2. Bukan Sekadar Pengganti, Tapi “Wajah Pertama” Gereja
Dalam arahannya, Uskup Labuan Bajo menegaskan sebuah identitas yang revolusioner: katekis adalah support system utama bagi tugas kegembalaannya. Mereka bukanlah sekadar pembantu administratif atau pelengkap saat imam berhalangan. Dalam struktur pelayanan Gereja, tugas pewartaan atau Kerygma (Kerikma) menempati posisi nomor satu dan paling fundamental.
Secara visual dan personal, katekis adalah representasi pertama yang dijumpai umat dalam keseharian mereka. Uskup dengan penuh rasa hormat menatap wajah-wajah para katekis senior yang hadir, menyebut mereka memiliki “aura kekudusan” karena telah menempuh perjalanan misi yang panjang. Tanpa dedikasi para pionir ini, Keuskupan Labuan Bajo mungkin belum akan terbentuk hari ini.
Uskup menekankan pentingnya peran ini melalui pernyataan yang kuat:
“Bapak Mama semua itu adalah wajah pertama Gereja di tengah umat. Bapak Mama lebih sering bertemu umat daripada kami… gambaran tentang Gereja itu sebagian besar diperoleh ketika umat mengalami perjumpaan dengan Bapak Mama semua sebagai pewarta Injil yang utama.”
3. Fenomena “Pater” Katekis: Ketika Pelayanan Melampaui Batas Formal
Ada sebuah anekdot menarik yang dibagikan Uskup tentang pengalamannya di Keuskupan Timika. Di sana, para katekis begitu dihormati hingga umat menyapa mereka dengan sebutan “Pater” (Romo/Pastor). Sambil berseloroh, Uskup bertanya-tanya apakah para katekis perempuan nantinya akan dipanggil “Suster” atau “Muder”.
Fenomena ini, meski secara hukum gerejawi tidak lazim, mencerminkan sebuah realitas spiritual yang mendalam. Panggilan tersebut muncul karena peran para katekis yang begitu “terkobar-kobar” dalam pelayanan hingga melampaui batas-batas identitas formal demi menjawab kebutuhan umat di lapangan. Ini adalah bukti bahwa karunia Allah yang dikobarkan akan membuat kehadiran seorang katekis menjadi oase rohani yang nyata, sebuah medan kasih karunia yang melampaui sekadar panduan legalistik.
4. Pengakuan Institusional: Dari “Tutup Botol” Menjadi Bagian Utama
Selama ini, ada persepsi keliru bahwa pelayanan awam seperti katekis hanyalah “tutup botol”—sekadar penambal lubang atau pengganti sementara ketika imam tidak ada. Namun, melalui dokumen Antiquum Ministerium, Paus Fransiskus telah memberikan rekognisi resmi bahwa pelayanan katekis adalah pelayanan awam yang diakui secara institusional.
Ini adalah pergeseran paradigma dari “pelengkap” menjadi “bagian utama.” Sebagai support system yang vital, katekis memiliki akar yang kuat dalam tradisi Gereja. Kehadiran mereka adalah sebuah mandat imperatif dalam perjalanan sinodal Gereja lokal. Mereka adalah infrastruktur rohani yang memastikan bahwa Gereja tidak bersifat “imam-sentris,” melainkan sebuah persekutuan yang partisipatif di mana setiap karunia diberi ruang untuk bertumbuh.
5. Spiritualitas Terbalik: Menjadi Domba Sebelum Menjadi Gembala
Uskup memaparkan tiga dimensi spiritualitas katekis: sebagai Murid, bagian dari Komunitas, dan seorang Misioner. Merujuk pada refleksi Kardinal Tagle dalam sebuah kongres misi, Uskup menekankan sebuah “spiritualitas terbalik” yang radikal. Meskipun katekis sering dipandang sebagai guru atau gembala bagi umat, di hadapan Kristus, mereka harus berani menempatkan diri sebagai “domba.”
Transformasi ini krusial: seorang pengajar harus terlebih dahulu menjadi murid yang tekun mendengar dengan “telinga iman.” Di era digital saat ini, tantangan yang disebut Paus Benediktus XVI sebagai “diktatur relativisme” kian nyata. Ketika kebenaran dianggap relatif dan anak muda mencari “tuhan” di media sosial, seorang katekis tidak boleh hanya mengajarkan teori. Mereka harus menghidupi Kristus agar apa yang diwartakan adalah sebuah kesaksian hidup, bukan sekadar kata-kata kosong yang ditawar oleh zaman.
6. Mengobarkan Karunia: Menjadi Medium Kehadiran Kristus
Mengutip 2 Timotius 1:6, Uskup mengajak para katekis untuk tidak membiarkan iman mereka menjadi “suam-suam kuku.” Ada perbedaan esensial antara “menyalakan” dan “mengobarkan.” Karunia itu sudah ada, namun perlu terus-menerus dikobarkan agar tidak padam oleh rutinitas birokrasi atau tuntutan profesionalisme semata.
“Karena itu kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu.”
Lebih dalam lagi, Uskup merefleksikan bahwa katekis adalah sebuah “kehadiran simbolik” atau medium. Seperti kisah para murid yang berjalan ke Emaus, hati mereka berkobar bukan karena kata-kata manusia, melainkan karena Kristus sendiri yang berbicara melalui perjumpaan itu. Katekis dipanggil untuk menjadi medium tersebut—sarana di mana Kristus bekerja untuk menyapa umat-Nya secara personal.
Menjaga Api di Jantung Keuskupan Baru
Pertemuan ini diakhiri dengan langkah konkret: pembentukan “Paguyuban Katekis.” Ini bukan sekadar wadah organisasi, melainkan ruang untuk bertumbuh bersama secara sinodal, solid, dan solider. Keuskupan Labuan Bajo yang sedang bertumbuh ini berdiri di atas pundak para pionir iman dan akan terus melaju berkat kerja sama seluruh elemen support system-nya.
Sebagai refleksi bagi kita semua, baik yang berjubah maupun yang awam:
Bagaimana kita bisa lebih efektif menjadi “support system” bagi satu sama lain, memastikan bahwa api iman tidak sekadar menyala kecil di sudut hati, tetapi berkobar menjadi terang yang menuntun sesama menuju keselamatan?

