LABUAN BAJO, MANGGARAI BARAT – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Katedral Roh Kudus Keuskupan Labuan Bajo pada Senin, 18 Mei 2026, saat ratusan umat dan delegasi mancanegara berkumpul dalam Misa Syukur merayakan ulang tahun ke-75 Caritas Internasionalis dan ke-20 Caritas Indonesia (Karina). Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung oleh Presiden Caritas Internasionalis sekaligus Uskup Agung Tokyo, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD.
Dalam kotbah, Kardinal Kikuchi menyampaikan poin-poin teologis dan praktis yang mendalam mengenai eksistensi Caritas di tengah dunia modern. Berikut adalah pokok-pokok penting gagasan yang disampaikan sang Kardinal:
- Caritas Sebagai Fondasi Iman, Bukan Sekadar Organisasi. Kardinal Kikuchi menekankan bahwa nama “Caritas” merujuk pada ensiklik Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, yang berarti “Allah adalah Kasih”. Beliau menegaskan bahwa Caritas bukanlah sekadar nama organisasi non-pemerintah (NGO) internasional milik Gereja Katolik, melainkan fondasi kehidupan Kristiani dan jantung misi Gereja di dunia. Kekristenan, menurutnya, bermula dari perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus yang kemudian mengalir menjadi misi untuk melayani mereka yang paling membutuhkan.
- Menjadi Saksi Kasih, Bukan Sekadar Pekerja Sosial. Kardinal mengingatkan bahwa para aktivis kemanusiaan di Caritas harus menjadi saksi kasih Allah, bukan hanya pekerja pembangunan yang efisien. Jika pelayanan tidak berakar pada kasih Allah, maka efisiensi kerja tersebut tidak bisa disebut sebagai semangat Caritas. Ia menegaskan bahwa pelayanan amal (charity) bukanlah pilihan opsional bagi Gereja, melainkan sudah menjadi kodrat atau sifat dasar Gereja itu sendiri.
- Profesionalisme yang Berakar pada Kemanusiaan. Dalam menjalankan misi kemanusiaan, Kardinal Kikuchi menyerukan pentingnya profesionalisme yang kompeten dan terorganisir. Namun, profesionalisme tersebut harus dibarengi dengan pendekatan yang sangat manusiawi dan berakar pada belas kasih. “Pendampingan membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran; ia membutuhkan kemanusiaan dan profesionalisme,” tegasnya.
- Kekuatan Caritas dari Akar Rumput (Grassroots). Gagasan kunci lainnya yang ditekankan adalah bahwa Caritas tidak bermula dari Roma atau dari atas (hierarki), melainkan tumbuh dari realitas akar rumput. Kardinal menceritakan pengalamannya memanen bayam bersama petani di Paroki Datak sebagai bukti nyata bahwa Caritas ada karena adanya komunitas lokal. Perjumpaan langsung dengan masyarakat inilah yang menciptakan hubungan manusiawi yang kuat, yang pada akhirnya menumbuhkan harapan.
- Tantangan yang Belum Usai. Meski merayakan usia 75 dan 20 tahun, Kardinal Kikuchi mengingatkan bahwa tugas Caritas masih sangat panjang. Mengingat perintah Yesus untuk mengasihi sesama sudah berusia 2.000 tahun namun dunia masih diwarnai peperangan dan pengabaian martabat manusia, maka usia organisasi saat ini barulah langkah awal untuk terus mewujudkan dunia yang penuh kasih.
Misa ini turut dihadiri oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subanto Bunjamin, OSC, dan Uskup Labuan Bajo Mgr. Maximus Regus. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi kemanusiaannya, Kardinal Kikuchi menerima token simbolis berupa “Sayap Malaikat” dari Caritas Indonesia di akhir perayaan. Perayaan ini menjadi momentum penting bagi Keuskupan Labuan Bajo, sebagai keuskupan termuda di Indonesia, untuk memperkuat komitmennya dalam membela martabat manusia dan menjaga keutuhan ciptaan.