WAJUR, 27 Agustus 2026 – Di tengah tantangan infrastruktur yang luluh lantak akibat gempa, aksi kemanusiaan terus digulirkan secara nyata oleh Gereja Katolik. Keuskupan Labuan Bajo menurunkan tim pelayanan lengkap ke Stasi Wetik, Paroki Santu Yosef Wajur, salah satu wilayah yang mengalami dampak gempa cukup parah dengan kondisi gereja stasi yang rusak berat serta banyak rumah umat yang rubuh.
Perjalanan menuju stasi tersebut tidaklah mudah. Pastor Paroki Wajur, Romo Edi Menori, mengungkapkan bahwa medan jalan menuju lokasi stasi mengalami kerusakan berat, sehingga membutuhkan perjuangan fisik yang melelahkan dan keberanian besar dari tim untuk bisa mencapainya. Kendati demikian, tim pelayanan keuskupan tetap hadir melayani dengan penuh semangat dan sukacita demi menemui umat penyintas gempa.
Sinergi Lintas Sektoral dan Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kemanusiaan yang dilaksanakan sepanjang hari hingga sore ini berhasil melayani sekitar 170 umat yang mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis serta pengobatan langsung di stasi. Dari hasil pemeriksaan medis tersebut, beberapa pasien yang memerlukan penanganan lebih intensif akan dirujuk ke Puskesmas terdekat, sementara sebagian lainnya akan diatur untuk dirujuk ke rumah sakit.
Aksi bakti sosial kesehatan ini dapat terlaksana dengan baik berkat kolaborasi erat berbagai pihak, yang meliputi:
- Para suster dari kongregasi DSY yang mengelola Rumah Sakit Santi Yosef, lengkap beserta para perawat dan dokternya.
- Petugas medis dari Puskesmas Pitak serta dukungan Dinas Kesehatan setempat.
- Bruder dari kongregasi SDB (Salesian Don Bosco) yang mendukung penuh penyediaan sarana transportasi tim menuju lokasi.
- Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo, relawan, Komsos, serta dukungan dari Tim Karina KWI yang turut hadir di lokasi.
Kebangkitan Optimisme: Trauma Healing untuk 400 Anak
Selain penanganan fisik melalui layanan medis, pemulihan kondisi psikologis umat pascagempa juga menjadi fokus perhatian utama. Tim pendampingan psikososial (trauma healing) diturunkan untuk mendampingi umat dewasa maupun anak-anak.
Secara khusus, kegiatan pendampingan bagi anak-anak dikoordinasikan oleh Komisi Anak dan Remaja Keuskupan Labuan Bajo yang diwakili oleh Ibu Vesti dan Pak Riki. Didukung oleh tenaga dari Caritas Indonesia (Karina) dan para suster dari Biara Ursulin, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 400 anak usia SD hingga SMP.
Melalui berbagai aktivitas kreatif, anak-anak diajak untuk bangkit kembali pascagempa dan mengikuti rangkaian acara dengan penuh sukacita. Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo, RD Richard Manggu, yang memantau langsung jalannya kegiatan, mengapresiasi kegembiraan luar biasa yang ditunjukkan anak-anak tersebut. Beliau mencatat adanya pancaran optimisme baru yang tumbuh kembali di wajah anak-anak.
Semangat Sinodalitas dan Harapan Baru
Atas terselenggaranya seluruh rangkaian pelayanan ini, Paroki Wajur Romo Edi Menori menyampaikan rasa gembira dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh tim keuskupan yang telah mengorbankan waktu dan tenaga demi menjumpai umatnya yang sedang mengalami kesulitan. Kehadiran tim keuskupan dinilai telah mengobati rasa letih umat serta menyuntikkan harapan dan semangat hidup yang baru bagi mereka di tengah situasi darurat.
Sementara itu, Romo Vikjen RD Richard Manggu menegaskan bahwa aksi kolaboratif semacam ini merupakan perwujudan konkret dari semangat sinodalitas—yakni berjalan bersama dalam kehidupan menggereja.
“Bagi saya sebagai Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Caritas mempunyai sebuah kekuatan ketika sungguh-sungguh hadir dan berada di tengah-tengah para korban dari bencana alam,” ujar RD Richard Manggu. Beliau menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak, termasuk instansi pemerintahan dan biarawan-biarawati, serta mendoakan agar berkat Tuhan senantiasa menyertai seluruh kerja kemanusiaan ini.