LABUAN BAJO – Keuskupan Labuan Bajo menyelenggarakan rapat koordinasi daring melalui media Zoom pada Senin malam, 24 Agustus 2026, mulai pukul 20.30 hingga 22.45 WITA. Rapat ini berfokus pada koordinasi penanganan dampak bencana gempa bumi yang melanda wilayah Keuskupan Labuan Bajo sejak 15 Agustus 2026.
Pertemuan krusial ini dihadiri oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo RD Richard Manggu, Direktur Caritas Keuskupan RD Yuvens Rugi, para suster, serta para pastor paroki di wilayah terdampak. Agenda utama meliputi evaluasi penanganan darurat fase pertama serta pematangan rencana aksi kemanusiaan untuk masa pemulihan ke depan.
Penanganan Fase Pertama: Caritas Keuskupan Jangkau Lebih dari 11.000 Jiwa
Dalam presentasi pembukanya, Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, RD Yuvens Rugi, memaparkan perkembangan respons darurat sejak hari pertama bencana. RD Yuvens menjelaskan bahwa siklus respons kebencanaan idealnya berjalan dalam pola kelipatan 7 hari (fase 7, 14, 21, dan 28 hari).
- Capaian Distribusi: Setelah melewati masa 7 hari pertama, tim posko keuskupan berhasil menuntaskan distribusi bantuan darurat tahap pertama di dua titik terakhir, yaitu Paroki Nunang dan Paroki Sok Rutung pada hari kedelapan. Secara keseluruhan, bantuan telah menjangkau 2.866 Kepala Keluarga (KK) atau diestimasi melayani lebih dari 11.000 jiwa.
- Dukungan untuk Paroki Mandiri: Terhadap beberapa paroki yang sebelumnya menginisiasi respons secara mandiri—seperti Paroki Lando, Merombok, Lengkong Cepang, Katedral, Waae Sambi, dan Noa—posko keuskupan tetap berkomitmen menyalurkan bantuan penyerta seadanya sebagai wujud nyata bela rasa dan solidaritas bersama.
- Pemenuhan Tenda Darurat (Terpal): Mayoritas bantuan awal berupa sembako dan terpal. Kebutuhan terpal sangat mendesak karena banyaknya rumah rusak yang memaksa warga tidur di luar rumah. Menyikapi keterbatasan stok lokal, Caritas Indonesia (Karina) telah memesan dan berkomitmen mendatangkan 1.000 terpal dari Surabaya pada minggu ini. Saat ini posko juga telah menyiapkan cadangan sekitar 250 hingga 300 terpal guna mengantisipasi kebutuhan darurat paroki yang belum terpenuhi.
- Antisipasi Perubahan Data: Guna merespons selisih data akibat gempa susulan yang terus terjadi—di mana rumah berstatus rusak ringan/sedang dapat berubah menjadi rusak berat—Caritas kini selalu menyiapkan bantuan logistik cadangan. Para pastor paroki, DPP, DKP, dan tim Caritas diminta terus memperbarui data di lapangan.
- Rencana Aksi Fase Kedua: Untuk 1-2 minggu ke depan, program kerja akan difokuskan pada:
- Layanan Kesehatan: Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan untuk memetakan pelayanan agar tidak tumpang tindih, dengan sasaran respons kesehatan pertama di wilayah Wajur di bawah koordinasi Suster Merlinda.
- Psikososial (Trauma Healing): Program untuk anak-anak dan dewasa yang berjalan serentak bersama tim medis. Sektor anak-anak di bawah komando Ibu Vesti bersama para pembina Sekolah Minggu (SEKAMI) paroki. Program ini sudah dirintis oleh tim suster di Pateng.
- Sanitasi: Pengadaan dan pendistribusian paket kebutuhan kamar mandi seperti sabun, detergen/Rinso, dan lainnya.
Dukungan Caritas Indonesia (Karina): Fokus Kebutuhan Non-Pangan dan Disabilitas
Direktur Karina KWI (Caritas Indonesia), RD Freddy Rante Taruk, yang hadir langsung di Labuan Bajo memberikan perhatian serius pada penanganan jangka menengah. Beliau menyatakan telah berdiskusi intensif dengan Caritas Keuskupan untuk merancang respons beberapa minggu ke depan.
RD Freddy menekankan bahwa karena jumlah pengungsi masih sangat banyak, fokus pelayanan kini harus diperluas ke ranah non-pangan, terutama terkait antisipasi penyakit yang rentan diderita para pengungsi, penyediaan tenda, pengobatan medis, serta layanan psikososial.
Secara khusus, RD Freddy memberikan apresiasi yang mendalam terhadap aksi kemanusiaan yang inklusif di Labuan Bajo. Beliau menyoroti langkah luar biasa Bapak Uskup Labuan Bajo yang secara langsung turun tangan menyapa dan memberikan perhatian khusus kepada kaum disabilitas yang membutuhkan perlakuan khusus di tengah situasi pascabencana. Caritas Indonesia juga berkomitmen mendatangkan tenaga profesional untuk berbagi pengalaman serta memperkuat kapasitas tim trauma healing lokal.
Vikjen Keuskupan: Bela Rasa, Profesionalitas, dan Solidaritas Lintas Batas
Menutup rapat koordinasi, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, RD Richard Manggu, memberikan sejumlah penegasan strategis dan refleksi iman bagi seluruh pelayan gereja:
- Hakikat Caritas: Romo Vikjen menegaskan bahwa “kita semua harus menjadi Caritas”. Caritas bukanlah sekadar proyek logistik untuk mengumpulkan dan membagikan barang, melainkan momentum penting bagi segenap umat dan gereja untuk belajar bersama tentang kepekaan bela rasa dan kesigapan menghadapi penderitaan sesama.
- Perlindungan Kelompok Rentan: Merujuk pada pesan mendalam Bapak Uskup, Romo Vikjen menginstruksikan para pastor paroki untuk memprioritaskan kelompok rentan. Kerentanan tersebut meliputi kerentanan ekonomi (masyarakat miskin), fisik (penyandang disabilitas/difabel), serta kerentanan politik—yaitu mereka yang terabaikan oleh pemerintah atau lembaga resmi akibat perbedaan pilihan politik. Gereja wajib hadir mendampingi dan mengadvokasi mereka demi keadilan distributif, terutama pada masa pemulihan (recovery).
- Satu Pintu dengan Fleksibilitas: Keuskupan mendukung manajemen satu pintu demi tata kelola data, transparansi, dan akuntabilitas yang baik. Namun, gerakan kemanusiaan tidak boleh kaku; paroki tetap diberi fleksibilitas dan keleluasaan dalam menghimpun serta menyalurkan bantuan mandiri secara cepat, dengan kewajiban tetap melaporkan datanya ke posko pusat Keuskupan guna menghindari tumpukan bantuan atau pendobelan.
- Profesionalitas Pelayanan: Romo Vikjen mengingatkan agar dalam berdiskusi mengevaluasi pelayanan, semua pihak bersikap profesional dan tidak membawa perasaan pribadi (jangan bawa perasaan) demi perbaikan tata kelola bersama. Koordinasi ke depan juga direncanakan akan dibuka lebih luas dengan melibatkan FKKR (Forum Komunikasi Kerasulan Religius) dan lembaga non-paroki.
- Solidaritas Lintas Keuskupan: Keuskupan Labuan Bajo berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri. Sebagai bentuk solidaritas konkret, Keuskupan sedang memproses pengeluaran bantuan obat-obatan impor dari luar negeri melalui Keuskupan Agung Ende untuk membantu kebutuhan medis di keuskupan tetangga yang juga terdampak gempa, seperti Keuskupan Ruteng.
- Kesehatan Relawan: Mengingat beratnya medan pelayanan, Romo Vikjen meminta para pastor paroki dan relawan untuk disiplin menjaga kesehatan dan istirahat. Untuk menopang fisik tim kemanusiaan di lapangan, Bapak Uskup telah menyiapkan dukungan multivitamin dari Kalbe serta suplemen omega-3.