Senin, 02 November 2026 (Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman/Pekan Biasa XXX)

Bacaan:

2 Makabe 12:43-46

Setelah menguburkan tentara yang gugur dalam pertempuran, Yudas, panglima Israel, menyuruh mengumpulkan uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu disuruhnyalah mengadakan kurban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

1 Kor 15-20-24a.25-28

Saudara-saudara, Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya; Kristus sebagi buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tibalah kesudahan, yaitu bilamana Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa. Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan bahwa ‘Segala sesuatu telah ditaklukkan’, sudah barang tentu Allah sendiri, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah Kristus, tidak termasuk di dalamnya. Dan kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Kristus sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri di bawah Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawh-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Yoh 6:37-40

Dalam rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

 

Renungan

Kasih yang Menjangkau Sampai ke Keabadian

Pada hari Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Gereja mengajak kita melakukan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat agung: mengingat dan mendoakan mereka yang telah mendahului kita. Di dalam hati kita hari ini mungkin hadir banyak wajah. Wajah ayah atau ibu yang sudah tiada. Saudara, sahabat, kerabat, atau orang-orang baik yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kita. Mereka memang telah hilang dari pandangan mata, tetapi tidak pernah hilang dari ingatan dan kasih kita.

Namun hari ini Gereja mengajarkan sesuatu yang lebih dalam lagi: mereka tidak hanya membutuhkan kenangan kita, tetapi juga doa-doa kita.

Itulah sebabnya bacaan pertama dari 2 Makabe 12:43-46 menceritakan tindakan Yudas Makabe yang mempersembahkan korban demi mereka yang telah meninggal. Kitab Suci menyebut tindakan itu sebagai sesuatu yang baik dan mulia karena dilakukan dalam keyakinan akan kebangkitan. Orang beriman sejak dahulu percaya bahwa kasih dapat melampaui batas kematian, dan doa adalah wujud kasih yang paling murni.

Betapa indahnya ajaran ini. Ketika kita mendoakan orang yang sudah meninggal, kita sedang melakukan sesuatu yang mungkin tidak lagi dapat dilakukan oleh mereka sendiri. Kita menghadirkan mereka di hadapan Allah dan berkata, “Tuhan, limpahkanlah kerahiman-Mu kepada mereka.”

Di dunia ini, banyak hal berakhir dengan kematian: jabatan berakhir, harta ditinggalkan, prestasi dilupakan. Namun kasih tidak pernah berakhir. Doa yang lahir dari kasih menembus batas ruang dan waktu, menjangkau mereka yang kini sedang menantikan kepenuhan sukacita bersama Allah. Harapan itu bukanlah angan-angan kosong. Dalam bacaan kedua, Santo Paulus berkata bahwa Kristus telah bangkit sebagai buah sulung dari mereka yang telah meninggal. Jika Kristus bangkit, maka kematian bukan lagi jalan buntu. Jika Kristus menang atas maut, maka kubur bukanlah kata akhir dari kisah hidup manusia.

Iman kita tidak dibangun di atas makam yang tertutup, tetapi pada makam yang kosong. Kita percaya bukan karena kematian itu lemah, melainkan karena Kristus lebih kuat daripada kematian. Karena itu Injil hari ini terdengar begitu menyejukkan hati. Yesus berkata:

“Aku tidak akan kehilangan seorang pun yang diberikan Bapa kepada-Ku… dan Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman.”

Inilah janji yang menopang harapan kita.

Mungkin kita pernah kehilangan seseorang yang sangat kita cintai. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ada rindu yang tak pernah benar-benar hilang. Ada nama yang masih kita sebut dalam doa setiap malam. Namun hari ini Yesus menghibur kita: mereka tidak hilang. Mereka berada dalam genggaman kasih-Nya. Tidak seorang pun yang dicintai Allah akan terlupakan.

Saudara-saudari,

Semua jiwa yang telah berpulang merindukan doa-doa kita. Dan tidak ada doa yang lebih berharga bagi mereka selain Perayaan Ekaristi. Dalam setiap Ekaristi, kurban Kristus yang menyelamatkan dihadirkan kembali. Di altar inilah bumi menyentuh surga. Di altar inilah doa kita dipersatukan dengan kasih Kristus yang tanpa batas.

Ketika kita mempersembahkan Ekaristi bagi arwah para anggota keluarga, sahabat, kenalan, dan semua orang lain sesungguhnya kita sedang merawat ikatan kasih yang tidak diputuskan oleh kematian. Mereka mungkin telah meninggalkan dunia ini, tetapi mereka tetap menjadi bagian dari persekutuan umat Allah.

Lebih dari itu, setiap kali kita mendoakan para arwah, sesungguhnya kita juga sedang mengungkapkan iman kita sendiri. Kita sedang berkata kepada dunia bahwa kita percaya pada Allah yang hidup. Kita percaya bahwa kehidupan tidak berakhir di liang kubur. Kita percaya bahwa tujuan akhir kita bukanlah kematian, melainkan perjumpaan abadi dengan Tuhan.

Maka hari ini, marilah kita berdoa dengan penuh cinta dan harapan. Kita serahkan semua arwah yang kita kenal dan kasihi ke dalam hati Allah yang penuh belas kasih. Dan semoga ketika suatu hari nanti perjalanan hidup kita sendiri berakhir, akan ada pula orang-orang yang mendoakan kita, sebagaimana hari ini kita mendoakan mereka.

Karena pada akhirnya, yang akan tinggal bukanlah kekayaan, bukan pula kedudukan, melainkan kasih yang kita berikan dan iman yang kita hidupi.

Tuhan, anugerahkanlah istirahat kekal kepada mereka. Semoga cahaya abadi menyinari mereka. Semoga semua arwah orang beriman, berkat kerahiman-Mu, beristirahat dalam damai. Amin. (RD Charles Suwendi)