Refleksi Dua Tahun Kelahiran Keuskupan Labuan Bajo dan Tahbisan Episkopal Mgr. Maksimus Regus
(2024 – 1 November – 2026)
Dua tahun mungkin merupakan waktu yang singkat dalam perjalanan sejarah sebuah Gereja lokal. Namun, bagi Keuskupan Labuan Bajo, dua tahun ini adalah masa yang penuh makna: masa kelahiran, peletakan fondasi, pembentukan identitas, pembelajaran bersama, dan peneguhan arah perjalanan sebagai sebuah Gereja Lokal. Dua tahun ini juga merupakan perjalanan penggembalaan Mgr. Maksimus Regus sebagai Uskup Labuan Bajo, yang melalui tahbisan episkopal menerima tugas dan tanggung jawab untuk menggembalakan umat Allah, membangun persekutuan, serta menghadirkan tanda keselamatan Allah di tengah dunia.
Surat Pastoral Uskup Labuan Bajo dalam rangka menyambut dua tahun kelahiran keuskupan, berjudul “Melangkah dalam Pengharapan“, memberikan sebuah perspektif rohani yang mendalam untuk membaca dan memaknai perjalanan tersebut. Kalimat pembukanya, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20), menjadi landasan iman bahwa perjalanan Gereja bukanlah pertama-tama tentang kemampuan manusia, kehebatan program, atau kecepatan mencapai target, melainkan tentang kesetiaan berjalan bersama Kristus yang senantiasa menyertai umat-Nya.
Karena itu, dua tahun perjalanan ini tidak cukup dibaca hanya melalui apa yang telah dicapai, tetapi juga melalui apa yang telah diperjuangkan, dipelajari, ditanggung bersama, dan diharapkan. Ada sukacita yang patut disyukuri, air mata yang tidak selalu terlihat, perjuangan yang tidak semua orang mengerti, tetapi juga harapan yang terus dirawat dalam doa. Di sinilah letak kedalaman refleksi dua tahun Keuskupan Labuan Bajo: Gereja yang sedang bertumbuh bukanlah Gereja yang sudah selesai, melainkan Gereja yang terus belajar berjalan, membangun persekutuan, dan menghadirkan keselamatan Allah.
- Dua tahun: membaca perjalanan dengan mata iman, bukan sekadar ukuran keberhasilan
Setiap kelahiran membawa harapan, tetapi juga menuntut keberanian untuk bertumbuh. Demikian pula kelahiran Keuskupan Labuan Bajo. Sebagai sebuah keuskupan muda, kita sedang berada dalam tahap membangun fondasi kehidupan menggereja. Kita belum memiliki segala sesuatu secara lengkap. Kita masih berhadapan dengan keterbatasan sumber daya manusia, sarana-prasarana, tata kelola, pengalaman kelembagaan, dan berbagai tantangan pastoral yang membutuhkan waktu serta keterlibatan banyak pihak.
Namun, kemudaan sebuah keuskupan bukanlah kelemahan. Justru di dalam kemudaan itu terdapat kesempatan istimewa untuk membangun pola kehidupan menggereja yang lebih terbuka, partisipatif, komunikatif, dan kolaboratif. Kita mempunyai kesempatan untuk belajar dari pengalaman Gereja lain, sekaligus merintis cara-cara baru dalam menghidupi persekutuan dan perutusan Gereja sesuai dengan konteks masyarakat Manggarai Barat.
Surat Pastoral Uskup mengajak kita untuk tidak terlalu cemas mengenai seberapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuh, tetapi melihat betapa jauh Tuhan telah menuntun kita. Ajakan ini penting agar kita tidak terjebak dalam mentalitas membandingkan diri dengan keuskupan-keuskupan lain, apalagi mengukur keberhasilan hanya berdasarkan banyaknya program, pembangunan fisik, atau pencapaian administratif.
Kita perlu belajar menghargai proses. Tidak semua rencana dapat diwujudkan dengan segera. Tidak semua harapan langsung menjadi kenyataan. Ada pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ada pembaruan yang memerlukan perubahan cara berpikir, dan ada kebiasaan lama yang perlu ditransformasikan. Sebab, membangun keuskupan bukan hanya membangun institusi, melainkan membangun manusia, memperkuat iman, membentuk budaya persekutuan, dan menumbuhkan tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, dua tahun ini merupakan kesempatan untuk bersyukur sekaligus bercermin. Kita bersyukur atas segala yang telah dimulai dan dikerjakan. Kita bercermin terhadap berbagai keterbatasan dan pekerjaan yang belum terselesaikan. Kita mengapresiasi setiap orang yang telah memberikan diri dalam pelayanan. Dan kita berani melakukan transformasi serta inovasi agar perjalanan ke depan semakin bermakna.
Gereja muda tidak harus menjadi Gereja yang tergesa-gesa. Gereja muda harus menjadi Gereja yang memiliki keberanian untuk bermimpi, kerendahan hati untuk belajar, kesabaran untuk bertumbuh, dan iman untuk terus melangkah.
- Sinodalitas: DNA dan fondasi perjalanan Keuskupan Labuan Bajo
Salah satu kekhasan yang perlu terus dirawat sejak awal perjalanan Keuskupan Labuan Bajo adalah semangat sinodalitas. Sinodalitas bukan sekadar metode organisasi atau mekanisme konsultasi dalam pengambilan keputusan. Sinodalitas merupakan cara hidup dan cara berada Gereja, yakni berjalan bersama sebagai umat Allah, saling mendengarkan, membangun discernment bersama, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan melaksanakan perutusan dalam semangat persaudaraan.
Memulai perjalanan sebagai keuskupan muda dengan semangat sinodalitas merupakan sebuah pilihan mendasar. Kita tidak ingin membangun Gereja yang hanya bertumpu pada figur pemimpin, melainkan Gereja yang mengembangkan kesadaran bahwa seluruh umat beriman, berdasarkan martabat baptisannya, mempunyai panggilan dan tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam kehidupan dan perutusan Gereja.
Dalam perspektif ini, uskup bukanlah seorang pemimpin yang berjalan sendirian di depan, sementara umat hanya mengikuti dari belakang. Uskup adalah gembala yang berjalan bersama umat, mendengarkan suara mereka, membaca tanda-tanda zaman, meneguhkan yang lemah, menyatukan berbagai karisma, dan mengarahkan seluruh umat kepada Kristus.
Demikian pula para imam, biarawan-biarawati, kaum awam, kaum muda, keluarga-keluarga, dan seluruh kelompok umat beriman dipanggil untuk menjadi subjek perutusan Gereja. Setiap orang mempunyai tempat, suara, karunia, dan tanggung jawab dalam membangun Gereja.
Semangat sinodalitas harus menjadi budaya yang nyata dalam kehidupan keuskupan, kevikepan, paroki, stasi, wilayah, dan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Ia harus tampak dalam forum-forum pastoral yang sungguh mendengarkan, proses perencanaan yang partisipatif, koordinasi yang sinergis, kepemimpinan yang melayani, komunikasi yang terbuka, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Di sinilah relevansi visi Keuskupan Labuan Bajo:
“Menjadi Gereja Katolik yang Sinodal, Solid, dan Solider.”
Ketiga dimensi visi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling mengandaikan dan menguatkan.
- Sinodal berarti kita membangun Gereja yang berjalan bersama, mendengarkan, berdialog, melibatkan, dan mengambil keputusan melalui proses penegasan bersama. Tidak ada seorang pun yang merasa memiliki Gereja secara eksklusif. Gereja adalah rumah bersama, tempat setiap orang diterima dan dihargai martabat serta kontribusinya.
- Solid berarti kita membangun Gereja yang memiliki fondasi iman yang kuat, tata kelola yang sehat, kepemimpinan yang bertanggung jawab, organisasi yang tertata, serta kerja sama yang saling melengkapi. Soliditas bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman, kesetiaan pada persekutuan, dan komitmen terhadap tujuan bersama.
- Solider berarti kita membangun Gereja yang tidak menutup diri dalam kenyamanan internal, tetapi keluar menjumpai kehidupan manusia, terutama mereka yang miskin, menderita, terluka, tersisih, dan rentan. Gereja hadir untuk menguatkan mereka yang lemah, mendengarkan mereka yang terluka, memperjuangkan martabat manusia, dan merawat keutuhan ciptaan.
Dengan demikian, sinodalitas menjadi cara kita berjalan, soliditas menjadi kekuatan yang menopang perjalanan, dan solidaritas menjadi wujud nyata kasih yang kita hadirkan sepanjang perjalanan itu.
Ketiganya merupakan satu kesatuan identitas Gereja yang hendak kita bangun sejak awal kelahiran Keuskupan Labuan Bajo.
- Melangkah dalam pengharapan: Gereja yang dekat, mendengarkan, dan menyembuhkan
Hal yang sangat menyentuh dalam Surat Pastoral Uskup adalah perhatian terhadap kehidupan konkret umat. Uskup tidak hanya berbicara tentang institusi dan program pastoral, tetapi menyapa keluarga yang sedang berjuang, para korban gempa bumi, petani, nelayan, pekerja, orang muda, mereka yang sakit, berduka, kecewa, dan merasa sendirian. Ia juga memberikan peneguhan kepada para imam dan kaum religius agar tetap setia dalam pelayanan.
Sapaan ini memperlihatkan bahwa jantung kehidupan Gereja adalah manusia dengan seluruh pengalaman hidupnya. Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internal, sementara pergulatan kehidupan umat luput dari perhatian. Gereja dipanggil untuk hadir di tengah realitas kehidupan, bukan sekadar berbicara tentang kehidupan dari kejauhan.
Secara khusus, pengalaman gempa bumi yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa solidaritas bukan hanya sebuah konsep pastoral. Solidaritas harus menjelma dalam kehadiran, kepedulian, bantuan nyata, pendampingan, dan keberpihakan kepada mereka yang mengalami penderitaan.
Demikian pula perhatian kepada petani, nelayan, pekerja, keluarga, dan kaum muda menegaskan bahwa pewartaan Injil harus menyentuh kehidupan sehari-hari. Gereja harus mampu membaca kegelisahan keluarga, tantangan ekonomi masyarakat, masa depan generasi muda, persoalan pendidikan, kesehatan, migrasi, ketidakadilan sosial, serta ancaman terhadap lingkungan hidup.
Dalam konteks Manggarai Barat yang sedang mengalami dinamika pembangunan dan pariwisata, Gereja juga ditantang untuk menjadi suara moral dan sahabat kemanusiaan. Pembangunan tidak boleh hanya dinilai dari pertumbuhan ekonomi dan kemegahan infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana martabat manusia dihormati, masyarakat lokal diberdayakan, budaya dilestarikan, lingkungan dijaga, dan kelompok rentan tidak ditinggalkan.
Karena itu, Gereja yang dekat dengan umat adalah Gereja yang berani keluar dari zona nyaman. Gereja yang mendengarkan adalah Gereja yang bersedia membuka diri terhadap pengalaman dan jeritan manusia. Gereja yang menyembuhkan adalah Gereja yang tidak menambah luka, melainkan menghadirkan pengampunan, rekonsiliasi, pemulihan, dan pengharapan.
Dalam konteks ini, permohonan maaf Uskup dalam surat pastoral, apabila pelayanan pastoral belum menjangkau semua orang, termasuk mereka yang terluka akibat kata-kata dan tindakan para pelayan pastoral, merupakan sebuah pesan yang sangat penting. Ada kerendahan hati seorang gembala yang menyadari bahwa pelayanan Gereja selalu membutuhkan pertobatan dan pembaruan.
Gereja yang sinodal harus menjadi Gereja yang berani mendengarkan kritik. Gereja yang solid harus berani memperbaiki kelemahan internalnya. Gereja yang solider harus berani mengakui ketika belum cukup hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Kita tidak dapat mewartakan keselamatan apabila kehadiran kita justru membuat orang kehilangan harapan. Kita tidak dapat berbicara tentang kasih apabila kita tidak bersedia mendengarkan luka sesama.
- Dua tahun tahbisan episkopal: dari panggilan menjadi pelayanan penggembalaan
Dua tahun tahbisan episkopal Mgr. Maksimus Regus juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan makna panggilan seorang uskup. Tahbisan episkopal bukanlah puncak kehormatan atau pencapaian jabatan gerejawi. Tahbisan merupakan penerimaan tanggung jawab pelayanan yang semakin besar dalam persekutuan dan perutusan Gereja.
Seorang uskup dipanggil untuk menjadi tanda kesatuan, penjaga iman apostolik, pengajar Injil, pengudus umat, dan gembala yang melayani. Ia dipanggil bukan untuk membangun kerajaan pribadi, melainkan untuk membangun Kerajaan Allah. Bukan untuk mencari kemuliaan diri, melainkan untuk memperlihatkan kemuliaan Kristus. Bukan untuk menguasai umat, melainkan untuk melayani dan menyerahkan diri bagi kehidupan umat Allah.
Dalam dua tahun perjalanan penggembalaan ini, makna tersebut dapat dibaca melalui ajakan untuk terus berjalan bersama, membangun kedekatan, menguatkan yang lemah, merawat alam, serta menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi uskup bagi sebuah keuskupan muda berarti ikut memikul tanggung jawab meletakkan fondasi yang akan menentukan arah perjalanan Gereja pada masa mendatang. Fondasi tersebut bukan hanya berupa struktur organisasi, perangkat pastoral, dan tata kelola kelembagaan, tetapi terutama spiritualitas pelayanan, budaya sinodalitas, kesatuan para pelayan pastoral, serta keterlibatan aktif seluruh umat beriman.
Karena itu, keberhasilan penggembalaan seorang uskup tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan kedewasaan seluruh Gereja lokal. Uskup tidak dapat berjalan sendirian. Ia membutuhkan para imam yang setia dan solider, kaum religius yang hidup dalam karisma dan kesaksian, kaum awam yang aktif dan bertanggung jawab, serta seluruh umat yang memiliki rasa cinta dan kepedulian terhadap Gerejanya.
Pada titik ini, semangat sinodalitas menjadi sangat penting. Uskup dipanggil untuk menggembalakan dengan mendengarkan; para imam dipanggil untuk melayani dengan semangat kolegialitas; kaum awam dipanggil untuk berpartisipasi dengan kesadaran akan martabat baptisan; dan seluruh umat dipanggil untuk menjadi satu persekutuan yang saling menopang.
Dua tahun tahbisan episkopal, dengan demikian, bukan sekadar peringatan perjalanan pribadi seorang uskup. Ini adalah perayaan atas panggilan bersama untuk semakin menjadi Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah.
- “Ut Mundus Salvetur per Ipsum”: menghadirkan keselamatan Kristus bagi dunia
Motto episkopal Mgr. Maksimus Regus, “Ut Mundus Salvetur per Ipsum” — “Agar Dunia Diselamatkan oleh-Nya” (Yohanes 3:17), memberikan kedalaman teologis bagi seluruh perjalanan penggembalaan dan kehidupan Keuskupan Labuan Bajo.
Motto ini mengandung sebuah kesadaran mendasar bahwa Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri. Gereja ada karena Kristus dan diutus untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya bagi dunia. Sebagaimana ditegaskan dalam Injil Yohanes, Allah mengutus Putra-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan oleh-Nya.
Dengan demikian, pusat kehidupan dan perutusan Gereja bukanlah dirinya sendiri, melainkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat dunia.
Motto ini sekaligus menjadi arah dan ukuran bagi perjalanan Keuskupan Labuan Bajo. Segala sesuatu yang kita bangun, program yang kita rencanakan, struktur yang kita bentuk, sumber daya yang kita kelola, serta pelayanan yang kita laksanakan, pada akhirnya harus mengarah kepada satu tujuan: menghadirkan keselamatan Kristus bagi manusia dan seluruh ciptaan.
Ada tiga pesan penting yang dapat kita dalami dari motto episkopal ini.
Pertama, Kristus adalah sumber, pusat, dan tujuan perjalanan Gereja.
Keuskupan Labuan Bajo tidak dibangun semata-mata berdasarkan kekuatan manusia, kemampuan organisasi, atau kecanggihan strategi pastoral. Kita membangun Gereja karena kita percaya kepada Kristus yang memanggil, menyertai, dan mengutus kita. Oleh karena itu, setiap pembaruan pastoral harus berakar pada spiritualitas Injil. Setiap program harus mengalir dari iman. Setiap pelayanan harus mencerminkan wajah Kristus.
Kedua, keselamatan harus menjadi cakrawala universal perutusan Gereja.
Kata mundus (dunia) mengingatkan kita bahwa perutusan Gereja melampaui batas-batas internal komunitas Katolik. Gereja diutus untuk menjadi berkat bagi semua orang. Kehadiran Gereja harus membawa kebaikan bagi masyarakat luas, membangun persaudaraan lintas agama, memperjuangkan keadilan, menghormati martabat manusia, menghadirkan perdamaian, dan merawat keutuhan ciptaan.
Dalam konteks Labuan Bajo dan Manggarai Barat, Gereja dipanggil menjadi bagian dari upaya membangun peradaban yang lebih manusiawi, berkeadilan, berbudaya, dan ekologis. Gereja tidak boleh hanya bertanya apa yang dapat diperoleh dari dunia, tetapi terutama apa yang dapat diberikan kepada dunia melalui kesaksian Injil.
Ketiga, keselamatan dihadirkan melalui kasih dan pelayanan.
Kata salvetur mengandung makna pembebasan, pemulihan, dan kehidupan yang diselamatkan. Maka, Gereja harus menjadi tempat orang menemukan pengharapan, orang terluka memperoleh pemulihan, orang miskin mendapatkan perhatian, orang tersisih menemukan penerimaan, dan mereka yang kehilangan arah menemukan kembali makna kehidupan.
Dalam terang motto ini, pelayanan bukan sekadar aktivitas kelembagaan. Pelayanan merupakan partisipasi dalam karya keselamatan Kristus. Kita tidak hanya mengurus Gereja, tetapi dipanggil untuk menghadirkan Gereja sebagai sakramen keselamatan bagi dunia.
Maka, visi Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider menemukan makna terdalamnya dalam motto episkopal tersebut. Kita berjalan bersama bukan sekadar supaya organisasi menjadi lebih baik, melainkan supaya persekutuan kita semakin menjadi tanda kehadiran Kristus. Kita membangun soliditas bukan demi kekuatan institusi semata, melainkan agar Gereja mampu melayani dengan lebih bertanggung jawab. Kita mengembangkan solidaritas karena kasih Kristus harus menjangkau semua orang, terutama mereka yang paling membutuhkan.
Ut Mundus Salvetur per Ipsum bukan hanya motto seorang uskup. Ia harus menjadi spiritualitas, orientasi, dan komitmen seluruh Gereja Keuskupan Labuan Bajo.
- Dari Gereja yang baru lahir menuju Gereja yang semakin dewasa dan misioner
Sebagai keuskupan muda, dua tahun pertama ini seharusnya menjadi momentum untuk semakin memperjelas identitas, memperkuat fondasi, dan meneguhkan arah perjalanan. Kita tidak cukup hanya bangga karena telah memiliki keuskupan sendiri. Kita harus bertumbuh menjadi Gereja lokal yang semakin dewasa dalam iman, matang dalam tata kelola, kuat dalam persekutuan, dan nyata dalam kesaksian.
Ada beberapa panggilan penting yang perlu menjadi perhatian dalam perjalanan selanjutnya.
Pertama, memperdalam spiritualitas sinodalitas.
Sinodalitas hendaknya tidak berhenti sebagai istilah yang sering diucapkan dalam berbagai pertemuan pastoral. Ia harus menjadi budaya kehidupan. Mendengarkan, berdialog, melakukan konsultasi, membangun kesepakatan, dan mengambil keputusan bersama perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Gereja. Setiap orang harus merasa memiliki ruang untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab.
Kedua, memperkuat soliditas kelembagaan dan tata kelola pastoral.
Keuskupan muda membutuhkan sistem kerja yang jelas, kepemimpinan yang kompeten, koordinasi yang efektif, perencanaan yang terukur, serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan. Pusat Pastoral, komisi-komisi, kevikepan, paroki, dan seluruh perangkat pastoral perlu bekerja secara sinergis. Kita perlu membangun budaya kerja yang tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam satu arah pastoral.
Ketiga, memperluas solidaritas dan keberpihakan pastoral.
Gereja harus semakin hadir di tengah persoalan nyata masyarakat. Perhatian terhadap keluarga, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, migrasi, anak dan kaum muda, kelompok rentan, korban bencana, serta persoalan lingkungan harus menjadi bagian integral dari perutusan Gereja. Gereja harus semakin dikenal bukan hanya karena kegiatan liturgisnya, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap kehidupan manusia dan keutuhan ciptaan.
Keempat, mengembangkan persekutuan sinergis dan kolaboratif.
Kita perlu meninggalkan cara kerja yang individualistis dan sektoral. Setiap komisi, lembaga, komunitas, dan pelayan pastoral memiliki kekhasan karunia, tetapi semuanya diarahkan kepada satu perutusan. Kerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, dan berbagai pihak yang berkehendak baik merupakan bagian dari upaya menghadirkan kebaikan bersama.
Kelima, membangun Gereja yang berani berinovasi dan membaca tanda-tanda zaman.
Gereja muda tidak boleh takut mencoba pendekatan baru. Pewartaan digital, pembaruan katekese, liturgi yang hidup dan kontekstual, pendidikan iman dalam keluarga, pengembangan kapasitas kaum awam, serta gerakan ekologis perlu terus dikembangkan. Inovasi bukan untuk mengikuti tren, melainkan agar Injil semakin dapat dipahami, dihayati, dan dialami dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini.
Semua itu perlu dijalankan dengan kesadaran bahwa kita tidak sedang berlomba menyelesaikan sebanyak mungkin program. Kita sedang membangun sebuah Gereja yang semakin menghadirkan Kristus dalam kehidupan.
- Melangkah bersama: pengharapan yang harus menjadi kesaksian
Pada akhirnya, surat pastoral Melangkah dalam Pengharapan mengajak kita untuk memandang masa depan dengan iman dan keteguhan hati. Pesan Yesus, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang hari esok” (Mat. 6:34), bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab untuk merencanakan masa depan. Sebaliknya, kita diajak untuk bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa kehilangan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.
Kita memang belum sampai sejauh yang diharapkan. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih ada pelayanan yang belum menjangkau semua orang. Masih ada keterbatasan dan tantangan yang membutuhkan perhatian. Namun, semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan semangat dan pengharapan.
Kita harus percaya bahwa Tuhan belum selesai berkarya dalam diri kita dan dalam Keuskupan Labuan Bajo.
Dua tahun perjalanan ini mengajarkan bahwa membangun Gereja membutuhkan kesabaran, kerendahan hati, kesetiaan, dan kerja sama. Tidak seorang pun dapat membangun Gereja sendirian. Tidak ada satu kelompok pun yang memiliki seluruh jawaban atas tantangan pastoral. Kita membutuhkan satu sama lain.
Karena itu, peringatan dua tahun ini hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen bersama:
- Bagi Uskup, untuk terus menjadi gembala yang berjalan bersama, mendengarkan, menyatukan, dan melayani.
- Bagi para imam dan kaum religius, untuk terus menjadi saksi Injil melalui kesetiaan, persaudaraan, dan pelayanan yang penuh kasih.
- Bagi kaum awam, untuk semakin menyadari martabat dan tanggung jawab baptisan serta mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan dan perutusan Gereja.
- Bagi keluarga-keluarga, untuk menjadi Gereja rumah tangga yang menumbuhkan iman, kasih, dan pengharapan.
- Bagi kaum muda, untuk berani mengambil bagian dalam membangun Gereja dan masyarakat masa depan.
- Bagi seluruh umat beriman, untuk menjadi pembawa damai, penabur persaudaraan, dan saksi keselamatan Kristus di tengah dunia.
Kita ingin agar Keuskupan Labuan Bajo tidak hanya dikenal sebagai sebuah keuskupan yang baru berdiri, tetapi sebagai Gereja lokal yang memiliki semangat, identitas, dan keberanian untuk menghadirkan Injil. Gereja yang tidak hanya sibuk membangun dirinya sendiri, tetapi keluar menjumpai dunia. Gereja yang tidak hanya berbicara tentang persaudaraan, tetapi menghidupinya. Gereja yang tidak hanya mewartakan kasih, tetapi menghadirkannya dalam tindakan nyata.
Penutup: Dua tahun telah berlalu, perjalanan masih panjang
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Dua tahun adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Kita telah melangkah, dan Tuhan telah menuntun kita. Kita telah mengalami sukacita dan pergulatan, keberhasilan dan keterbatasan, harapan dan kekecewaan. Namun, satu hal yang tidak boleh hilang dari perjalanan kita adalah keyakinan bahwa Kristus senantiasa menyertai Gereja-Nya.
Sebagai Gereja muda, marilah kita tidak takut dengan keterbatasan. Jangan pula menjadi sombong karena pencapaian. Kita perlu memiliki keberanian untuk bermimpi, kerendahan hati untuk belajar, keteguhan untuk berjuang, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Mari kita menjadikan sinodalitas sebagai cara hidup, soliditas sebagai kekuatan persekutuan, dan solidaritas sebagai kesaksian kasih. Mari kita membangun Gereja yang tidak hanya kuat di dalam, tetapi juga terbuka keluar; tidak hanya bertumbuh dalam struktur, tetapi juga berbuah dalam pelayanan; tidak hanya merayakan iman di altar, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kepada Mgr. Maksimus Regus, dua tahun tahbisan episkopal menjadi momentum untuk terus meneguhkan panggilan penggembalaan: berjalan bersama umat, menggembalakan dengan hati, mendengarkan dengan kerendahan hati, dan memimpin dengan semangat pelayanan. Semoga motto episkopal Ut Mundus Salvetur per Ipsum senantiasa menjadi sumber inspirasi dan kompas bagi seluruh perjalanan penggembalaan.
Dan kepada seluruh umat Keuskupan Labuan Bajo, marilah kita melangkah bersama dalam satu iman, satu harapan, dan satu perutusan. Kita mungkin berbeda dalam pengalaman, karunia, tanggung jawab, dan cara pandang, tetapi kita dipersatukan oleh Kristus yang sama dan diutus untuk menghadirkan kasih-Nya kepada dunia.
Dua tahun telah kita lalui. Perjalanan masih panjang. Tetapi kita tidak berjalan sendirian. Kristus berjalan bersama kita, dan melalui kita, Ia ingin menyelamatkan dunia.
Melangkah dalam Pengharapan, Bertumbuh dalam Sinodalitas, Bersaksi dalam Solidaritas, agar Dunia Diselamatkan oleh-Nya.
Ut Mundus Salvetur per Ipsum