Peluncuran dua buku karya Mgr. Prof. Dr Maksimus Regus, S.Fil., M.Si dilaksanakan bersamaan dengan Perayaan Syukur atas pengukuhannya sebagai guru besar. Keuskupan Labuan Bajo merayakan syukuran dan peluncuran buku ini di Rumah Unio, Jumat 15 Mei 2026 sore.
Dua karya terbaru dari Uskup Labuan Bajo itu berjudul, Trilogi Pemikiran Paus Fransiskus: Iman, Alam, dan Persaudaraan dan Paus Leo XIV: Menyambung Warisan, Menjawab Tantangan Zaman. Buku pertama, Trilogi Pemikiran Paus Fransiskus, ibarat sebuah peziarahan rohani yang mengajak kita berjalan bersama Gereja dan dunia. Di dalamnya, iman tidak ditempatkan jauh di langit yang abstrak, melainkan hadir di tengah bumi yang terluka, di tengah jeritan orang miskin, dan di tengah kerinduan manusia akan persaudaraan sejati. Melalui refleksi atas Lumen Fidei, Laudato Si’, dan Fratelli Tutti, kita diajak melihat bahwa iman kristiani sejati selalu melahirkan kepedulian: kepada sesama, kepada rumah bersama, dan kepada masa depan kemanusiaan. Buku ini seperti suara lonceng yang mengingatkan dunia bahwa iman tanpa kasih dan tanggung jawab ekologis akan kehilangan daya profetisnya.
Sementara itu, buku Paus Leo XIV: Menyambung Warisan, Menjawab Tantangan Zaman menghadirkan refleksi tentang Gereja yang terus berjalan bersama sejarah. Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, krisis moral, dan ledakan teknologi, buku ini menampilkan sosok Paus Leo XIV sebagai gembala yang dengan bijaksana berusaha menjembatani tradisi dan pembaruan. Dari isu kecerdasan buatan, etika digital, hingga dialog antaragama dan tata kelola Gereja, kita melihat sebuah harapan bahwa Gereja tetap dapat menjadi cahaya iman, kompas moral, dan rumah bagi kemanusiaan modern. Buku ini bukan hanya membaca arah zaman, tetapi juga menyalakan api harapan di tengah kegalauan dan kegelisahan dunia.
Kedua karya ini memperlihatkan wajah seorang gembala yang tidak hanya tekun membaca buku di balik biliknya, tetapi juga tekun membaca tanda-tanda zaman. Seorang intelektual yang tidak membangun menara gading untuk menjauh dari dunia, melainkan membuka jendela agar Gereja dapat terus berdialog dengan realitas manusia. Dalam diri Mgr. Prof. Dr. Maksimus Regus, ilmu pengetahuan tidak kehilangan hati, dan iman tidak kehilangan keberanian untuk berpikir.
Maka, peluncuran kedua buku ini sesungguhnya bukan sekadar peristiwa literasi atau seremoni akademik. Ini adalah perayaan atas api pemikiran yang terus dijaga agar tetap menyala; perayaan atas keberanian untuk berpikir, bersuara, dan merawat harapan; juga ungkapan syukur bahwa dari Labuan Bajo, Manggarai dan Flores, lahir suara intelektual dan pastoral yang mampu bergema melampaui batas-batas geografis. Semoga karya-karya ini terus menjadi pelita bagi Gereja, bangsa, dan dunia; menghidupkan harapan, merawat persaudaraan, dan menjaga keutuhan ciptaan.