Bacaan Injil Luk 6:39-41
Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Renungan
Dalam perumpamaan Yesus pada hari ini, ada dua hal yang hendak disampaikan kepada kita. Pertama, selama masih ‘buta’ seorang murid tak mungkin menuntun orang buta lain, tetapi setelah tamat, ia dapat menjadi guru. Orang buta dalam ay. 39 tidak mengacu kepada orang Farisi dan ahli Taurat, berbeda dengan paralelnya dalam Mat. 15:14, tetapi kepada murid-murid yang dipandang masih buta karena baru mulai menerima pelajaran. Murid-murid yang miskin dan berbelas kasihan, di sini diajar bagaimana menjadi penuntun dan pembina saudaranya. Murid yang masih buta, dan tidak melihat kebutaannya sendiri, dan belum ada perbendaharaan hati yang baik, tak dapat menuntun dan menegur saudaranya, sebaliknya hanya menyesatkan dan menjatuhkan. Yesus hendak mengingatkan kita untuk selalu belajar dengan rendah hati kepada-Nya. Ada kecenderungan dalam diri setiap orang beriman yang merasa seolah tahu banyak, tetapi ternyata belum mampu menuntun orang kepada kebenaran. Oleh karena itu, marilah kita selalu mawas diri dan selalu belajar kepada sang Guru sejati yakni Yesus Kristus.
Kedua, bila ‘tidak melihat’ balok di mata sendiri, bagaimana bisa melihat apalagi mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara. Kecenderungan ini hampir ada dalam diri setiap orang beriman. Lebih mudah melihat noda pada orang lain, namun buta terhadap noda pada diri sendiri. Yesus memang tidak mengatakan bahwa murid yang semuanya pendosa harus menutup mata terhadap segala dosa diantara mereka, tetapi mengajak mereka untuk memeriksa dan mengoreksi diri terlebih dahulu. Dengan demikian, mereka akan lebih berbelas kasihan dalam menilai saudaranya dan bisa membantunya menjadi lebih baik. Karena itu, marilah dengan jujur dan rendah hati kita mengakui kekurangan dalam diri kita, lalu dengan berani memperbaikinya. Keberanian itu menghantarkan kita pada ketulusan untuk mengeluarkan selumbar pada mata saudara kita. Tuhan Yesus memberkati. (Rm. Ignasius Haryanto, Pr)