Kick Off Meeting “Harvest Program” Caritas Indonesia dan Keuskupan Labuan Bajo

LABUAN BAJO – Sebagai langkah konkret menghadapi tantangan perubahan iklim dan memperkuat kedaulatan pangan, Keuskupan Labuan Bajo bekerja sama dengan Caritas Indonesia resmi meluncurkan Program HARVEST (Holistic Agriculture Resilience, Vision, Empowerment, Sustainability & Transformation). Peluncuran yang dikemas dalam bentuk Kick-off Meeting ini berlangsung khidmat di Ruang Rapat Pastoran Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Kamis (16/4/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi Keuskupan Labuan Bajo, di antaranya Vikaris Jenderal (Vikjen) RD Rickard Manggu, Sekretaris Jenderal RD Frans Nala, Ekonom RD Martin Willian, serta Direktur Pusat Pastoral (Puspas) RD Charles Suwendi bersama para Ketua Komisi Puspas. Turut hadir utusan dari Caritas Indonesia, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Barat, serta perwakilan kelompok dampingan dari Paroki Lando dan Paroki Datak.

Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo RD Yuvens Rugi mempresentasikan implementasi harvest program di kelompok dampingan Caritas Keuskupan Labuan Bajo, yaitu Paroki Lando dan Paroki Datak

Keberpihakan Gereja pada Petani

Peluncuran program ini ditandai secara simbolis dengan pemukulan gong oleh Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, RD Rickard Manggu. Dalam sambutannya, RD Rickard menegaskan bahwa program ini lahir dari kesadaran mendalam Gereja terhadap realitas umat di Keuskupan Labuan Bajo, di mana 80% hingga 90% penduduknya berprofesi sebagai petani.

“Pilihan keberpihakan Keuskupan kepada para petani dilakukan dengan penuh kesadaran dan keyakinan bahwa pertanian kita sedang tidak baik-baik saja karena digerogoti masalah perubahan iklim,” ujar RD Rickard. Ia juga menekankan pentingnya aspek keberlanjutan agar program ini tidak sekadar menjadi proyek sesaat, melainkan mampu menjadi titik sentral pemberdayaan di tingkat paroki.

Transformasi Pertanian Berkelanjutan

Program HARVEST dirancang untuk mengintegrasikan praktik adaptasi perubahan iklim ke dalam mata pencaharian masyarakat. Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo, RD Charles Suwendi, menjelaskan bahwa tema ketahanan pangan dan ekonomi ini merupakan panggilan bersama untuk merespons kerentanan ekonomi keluarga.

“Melalui program ini, kita ingin menegaskan komitmen Gereja untuk berjalan bersama umat, membangun ketahanan tidak hanya secara spiritual tetapi juga sosial dan ekonomi,” jelas RD Charles. Program ini diharapkan membawa transformasi cara berpikir dalam melihat relasi antara manusia, alam, dan Tuhan, selaras dengan prinsip-prinsip Laudato Si’.

Langkah Implementasi dan Kolaborasi

Selama dua tahun ke depan, Program HARVEST 2.0 akan fokus pada beberapa hasil nyata, antara lain:

  • Peningkatan Kapasitas Lokal: Pelatihan pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL), pupuk organik padat dan cair, serta pestisida alami.
  • Pengembangan Infrastruktur: Pembangunan rumah kaca (greenhouse), gudang pupuk, lahan percontohan, dan kandang kambing untuk mendukung pengelolaan ternak berkelanjutan.
  • Pemberdayaan Ekonomi: Penguatan modal usaha tani yang berkelanjutan dan pembentukan Unit Berbasis Simpan Pinjam (UBSP) komunitas.
  • Sinergi Lintas Sektor: Membangun kolaborasi dengan Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pertanian, guna memastikan keberlanjutan dan jangkauan pasar bagi produk organik masyarakat.

Dua kelompok dampingan dari Paroki Lando dan Paroki Datak akan menjadi wajah depan program ini di Keuskupan Labuan Bajo. Dengan semangat “jalan bersama” atau sinodalitas, program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan output fisik, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dilayani.