Minggu, 01 Nopember 2026 (Hari Raya Semua Orang Kudus/Pekan Biasa XXXI)

Bacaan: Wahyu 7:2-4.9-14

7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut,

7:3 katanya: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”

7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,

7:12 sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?”

7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

 1 Yohanes 3:1-3

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

2Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi keadaan kita kelak belum dinyatakan. Namun kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

 Matius 5:1-12a

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan. 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku orang mencela dan menganiaya kamu, serta menujukan segala fitnah kepadamu. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

Renungan

Tema: “Kita Semua Dipanggil Menjadi Kudus”

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Ketika mendengar kata “orang kudus“, mungkin kita langsung teringat kepada Santo Fransiskus Assisi, Santa Teresa dari Kalkuta, Santo Yohanes Paulus II, atau para santo dan santa lainnya yang kisah hidupnya sangat luar biasa.

Namun Gereja tidak hanya merayakan para kudus yang kita kenal namanya. Hari ini Gereja juga merayakan begitu banyak orang kudus yang tidak dikenal oleh dunia. Mereka adalah orang-orang biasa yang hidupnya sederhana, tetapi setia kepada Tuhan sampai akhir hidup mereka.

Mungkin mereka adalah seorang ibu yang dengan sabar membesarkan anak-anaknya dalam iman. Seorang ayah yang bekerja keras dengan jujur demi keluarganya. Seorang guru, petani, nelayan, katekis, atau seorang lansia yang setia berdoa setiap hari. Mereka tidak terkenal, tetapi hidup mereka berkenan di hadapan Tuhan.

Karena itu, perayaan hari ini mengingatkan kita bahwa kekudusan bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Kekudusan adalah panggilan bagi kita semua.

Saudara-saudari,

Dalam bacaan pertama dari Kitab Wahyu, Santo Yohanes melihat begitu banyak orang berkumpul di hadapan takhta Allah. Jumlah mereka tidak terhitung. Mereka datang dari berbagai bangsa, suku, dan bahasa.

Artinya, surga bukan hanya untuk kelompok tertentu. Surga terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan dan berusaha hidup setia kepada-Nya.

Menariknya, mereka yang berada di hadapan Allah itu adalah “orang-orang yang telah melewati berbagai kesulitan hidup”. Mereka pernah mengalami penderitaan, tantangan, penolakan, bahkan penganiayaan. Tetapi mereka tetap bertahan dalam iman.

Dari sini kita belajar bahwa orang kudus bukanlah orang yang hidupnya selalu lancar. Orang kudus adalah orang yang tetap percaya kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan.

Bukan hidup tanpa masalah yang membuat seseorang menjadi kudus, melainkan kesetiaan kepada Tuhan di tengah masalah.

Saudara-saudari,

Dalam bacaan kedua, Santo Yohanes mengatakan sesuatu yang sangat indah: “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah.”

Inilah identitas kita yang paling penting.

Mungkin ada di antara kita yang bekerja sebagai pegawai, guru, petani, nelayan, pedagang, pastor, atau profesi lainnya. Namun sebelum semua itu, kita adalah anak-anak Allah.

Karena kita adalah anak-anak Allah, kita dipanggil untuk hidup seperti yang dikehendaki Allah.

Seorang anak biasanya berusaha meniru orang tuanya. Demikian juga kita dipanggil meneladani Allah yang penuh kasih, penuh pengampunan, dan penuh belas kasih.

Itulah dasar kehidupan orang kudus.

Mereka hidup baik bukan karena ingin dipuji orang, tetapi karena mereka sadar bahwa mereka adalah anak-anak Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Injil hari ini, Yesus menunjukkan jalan menuju kekudusan melalui Sabda Bahagia.

Yesus berkata:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.”

“Berbahagialah orang yang lemah lembut.”

“Berbahagialah orang yang membawa damai.”

“Berbahagialah orang yang murah hatinya.”

“Berbahagialah orang yang suci hatinya.”

Kalau kita perhatikan, Yesus tidak mengatakan, “Berbahagialah orang yang paling kaya”, atau “Berbahagialah orang yang paling berkuasa”.

Bagi Yesus, kebahagiaan yang sejati lahir dari hati yang dekat dengan Allah.

Orang kudus adalah orang yang memberi tempat bagi Tuhan dalam hidupnya.

Mereka rendah hati.

Mereka suka menolong.

Mereka mudah mengampuni.

Mereka membawa damai.

Mereka jujur dan tulus.

Mereka berusaha melakukan kehendak Tuhan meskipun tidak mudah.

Saudara-saudari,

Kadang-kadang kita berpikir bahwa menjadi kudus berarti melakukan hal-hal besar dan luar biasa. Padahal sering kali kekudusan lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan cinta.

Menjadi kudus bisa dimulai dari rumah.

Ketika suami dan istri saling mengasihi dan setia.

Ketika orang tua mendidik anak-anak dengan kasih.

Ketika anak menghormati orang tuanya.

Ketika kita meminta maaf setelah berbuat salah.

Ketika kita mengampuni orang yang menyakiti kita.

Ketika kita bekerja dengan jujur.

Ketika kita membantu orang yang membutuhkan.

Ketika kita berdoa meskipun sedang sibuk.

Di situlah jalan kekudusan dimulai.

Kekudusan bukan sesuatu yang jauh. Kekudusan hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudari terkasih,

Hari Raya Semua Orang Kudus mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sungguh ingin menjadi kudus? Karena sesungguhnya Tuhan memanggil setiap orang untuk menjadi kudus. Bukan besok. Bukan nanti. Tetapi mulai hari ini.

Mungkin kita tidak akan menjadi santo atau santa yang terkenal. Mungkin nama kita tidak akan pernah ditulis dalam buku sejarah. Tetapi itu tidak penting.

Yang penting adalah ketika hidup kita selesai, Tuhan dapat berkata kepada kita:

“Engkau telah setia. Masuklah dan ambillah bagian dalam kebahagiaan Tuhanmu.”

Maka marilah kita belajar dari para kudus. Mereka adalah orang-orang biasa yang membuka hati bagi rahmat Tuhan. Jika mereka bisa, kita pun bisa, karena Tuhan yang sama tetap menyertai kita hari ini.

Semoga teladan semua orang kudus membantu kita untuk semakin mengasihi Tuhan, semakin mengasihi sesama, dan semakin setia berjalan menuju kekudusan. Amin.

 

RD Charles Suwendi