Minggu, 08 November 2026 (Minggu Biasa XXXII)

Bacaan:

Kebijaksanaan 6:12–17

Kebijaksanaan bersinar dan tak dapat layu, mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya, dan ditemukan oleh mereka yang mencarinya.

Ia mendahului memperkenalkan diri kepada yang ingin kepadanya.

Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu.

Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan.

Sebab ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka di jalan, pada tiap-tiap pikiran dijumpainya.

Sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya

1 Tesalonika 4:13–18

Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Matius 25:1–13

“Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

RENUNGAN

“APAKAH PELITA KEHIDUPAN KITA MASIH MENYALA?”

Saudara-saudari terkasih,

Ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan hari ini: Apakah pelita kehidupan kita masih menyala? Kita mungkin masih rajin berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, terlibat dalam kegiatan Gereja, dan menjalankan berbagai tanggung jawab. Namun, apakah semua itu sungguh lahir dari iman yang hidup dan hati yang dipenuhi kasih?

Melalui bacaan pertama, kita diajak mencari kebijaksanaan. Kebijaksanaan bukan sekadar kepandaian atau banyaknya pengetahuan, melainkan kemampuan melihat kehidupan dari sudut pandang Allah. Orang bijaksana tidak hanya mengejar apa yang menyenangkan, tetapi mengutamakan apa yang benar, baik, dan bernilai kekal.

Bacaan kedua mengajak kita memelihara pengharapan. Santo Paulus menegaskan bahwa kita tidak boleh berdukacita seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan. Kristus telah wafat dan bangkit. Karena itu, penderitaan, kehilangan, bahkan kematian bukanlah akhir dari perjalanan kita. Iman akan kebangkitan memberi kekuatan untuk tetap menjalani kehidupan dengan penuh harapan.

Dalam Injil, Yesus menghadirkan kisah sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai laki-laki. Semuanya membawa pelita, tetapi tidak semuanya menyediakan minyak. Perbedaan itu baru tampak ketika mempelai datang.

Perumpamaan ini mengajak kita menyadari bahwa memiliki pelita saja tidak cukup. Iman tidak cukup hanya diakui, tetapi harus dihidupi. Kita bisa memiliki banyak kegiatan keagamaan, tetapi kehilangan kasih; bisa rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni; bisa aktif melayani, tetapi masih mencari pujian dan penghargaan.

Minyak dalam pelita dapat kita pahami sebagai gambaran kasih, kesetiaan, ketekunan dalam doa, dan relasi pribadi dengan Tuhan. Semua itu tidak dapat digantikan oleh kesalehan orang lain. Kita memang bisa saling menguatkan, tetapi setiap orang harus membangun dan memelihara imannya sendiri.

Sering kali kita menunda-nunda kebaikan: nanti saya akan mengampuni, nanti saya akan memperbaiki hubungan, nanti saya akan lebih rajin berdoa, dan nanti saya akan melayani dengan lebih sungguh-sungguh. Padahal, kita tidak pernah mengetahui kapan Tuhan memanggil kita.

Maka, persoalannya bukanlah kapan Tuhan datang, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan selama menantikan-Nya.

Saudara-saudari terkasih,

Ketiga bacaan hari ini mengajak kita menjadi pribadi yang bijaksana dalam menentukan pilihan, teguh dalam pengharapan, dan setia dalam menghidupi iman. Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan akan kedatangan Tuhan, melainkan dalam kesiapsediaan yang lahir dari kasih.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah pelita iman kita masih menyala? Apakah minyak kasih dan kesetiaan kita masih cukup? Apakah kehadiran kita sungguh membawa terang dan harapan bagi orang-orang di sekitar kita?

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengurus pelita orang lain, tetapi lupa mengisi minyak pelita kita sendiri. Jangan sampai kita begitu sibuk menantikan Tuhan, tetapi lupa hidup setia kepada-Nya.

Semoga hidup kita menjadi pelita yang terus menyala: menerangi keluarga, menghangatkan persaudaraan, menguatkan mereka yang menderita, dan menghadirkan kasih Tuhan di tengah dunia.

Sebab, orang yang sungguh menantikan Tuhan adalah orang yang setiap hari berusaha hidup seturut kehendak-Nya.

Amin.  (RD Charles Suwendi)