WANING – Ribuan umat Katolik memadati kompleks Gereja Paroki St. Kristoforus Waning, Keuskupan Labuan Bajo, untuk menyaksikan peristiwa bersejarah pada Kamis, 6 Agustus 2026. Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, secara resmi memberkati gereja baru paroki itu dalam sebuah perayaan ekaristi meriah yang menandai babak baru kehidupan iman umat di wilayah Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat.
Perayaan dimulai dengan prosesi adat penyambutan yang hangat di jalan masuk kompleks gereja saat Mgr. Maksimus tiba di lokasi. Setelah misa pemberkatan, acara dilanjutkan dengan penanaman pohon kopi di samping gereja lama serta resepsi bersama yang memanfaatkan bangunan gereja lama sebagai aula pertemuan.
Perjalanan Panjang 10 Tahun Pembangunan
Pemberkatan ini merupakan puncak dari perjuangan panjang selama satu dekade. Ketua Panitia Pembangunan mengungkapkan bahwa peletakan batu pertama gereja ini telah dilakukan sejak tahun 2016 oleh mendiang Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng.
Proses pembangunan ini melibatkan estafet kepemimpinan beberapa pastor paroki, mulai dari RD Maksi Larung hingga Romo Robertus Pelita. Meskipun sempat memakan waktu sekitar 10 tahun, gereja ini akhirnya berdiri kokoh berkat semangat kebersamaan dan gotong royong umat. Dana yang digunakan berasal dari swadaya umat dan para donatur, mencerminkan dedikasi komunitas yang luar biasa selama 75 tahun perjalanan Paroki Waning.
Uskup Maksi: Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider
Dalam homilinya, Mgr. Maksimus Regus menekankan pentingnya menghidupi visi keuskupan, yaitu menjadi gereja yang sinodal, solid, dan solider. Mengacu pada Kitab Nehemia, Uskup menekankan bahwa dasar dari gereja yang sinodal adalah kerelaan untuk saling mendengar—baik antara pastor dan umat, maupun antara orang tua dan kaum muda. “Mendengar dengan telinga dan hati menjadi prasyarat pertama kita menjadi gereja sinodal,” ujar Mgr. Maksimus.
Uskup mengingatkan bahwa gereja bukan tempat untuk memamerkan kehebatan atau kekuasaan. Dengan semangat soliditas, gereja harus menjadi ruang untuk saling menguatkan, menyembuhkan, dan memaafkan, di mana kualitas pelayanan menjadi tolok ukur utama.
Lebih lanjut ia menyatakan, setelah gereja fisik diberkati, tugas umat belum usai. Uskup mengajak umat untuk keluar dan menjadi “misionaris kasih”. Gereja harus memiliki kepedulian nyata bagi mereka yang sakit, lansia, dan anak-anak yang tidak mampu sekolah.
Merujuk pada kisah Ezra, Uskup berpesan agar umat merayakan pencapaian ini dengan sukacita dan kegembiraan, meninggalkan air mata kesedihan masa lalu.
Melalui maklumat pemberkatan yang dibacakan oleh Pastor Paroki, Romo Robertus Pelita, Gereja Santo Kristoforus Waning kini sah dan resmi digunakan sebagai tempat ibadat, pelayanan sakramen, dan pusat pengembangan iman bagi seluruh umat Katolik di Waning. Uskup berharap paroki ini terus menjadi sumber inspirasi, cinta, dan kebaikan bagi lingkungan sekitar dalam perjalanan panjangnya ke depan.
