Pesta Pemuliaan Salib Suci

Bacaan Injil Yoh 3:13-17

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Renungan

Dalam kehidupan kita sebagai manusia, kita biasanya menghindari melihat hal-hal yang menyebabkan rasa sakit. Namun hari ini, gereja meminta kita untuk melihat salib. Bukan sekedar sebagai sepotong kayu yang digantung pada dinding gereja, pada tembok rumah atau tergantung pada leher kita masing-masing, tapi sebagai tanda kasih Tuhan yang terbesar. Sahabat-sahabatku terkasih, pada hari Minggu biasa ke-24 tahun C ini, kita merayakan pesta pemuliaan Salib Suci. Kita diundang untuk mengangkat mata kita kepada Kristus yang disalibkan yang mengubah penderitaan menjadi kehidupan dan kekalahan menjadi kemenangan.

Dalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab Bilangan, kita membaca narasi perjalanan panjang bangsa Israel melalui padang gurun setelah meninggalkan Mesir. Dalam perjalanan itu, mereka menjadi tidak sabar dan berbicara menentang Tuhan dan Musa, mengeluh tentang makanan dan takut akan nyawa mereka. Gerutuan mereka bukan saja menunjukkan rasa lapar, tetapi juga kurangnya kepercayaan pada pemeliharaan Tuhan.

Kita melihat dalam kisah itu bahwa, Penyembuhan tidak datang dari patung perunggu itu sendiri, tetapi dari rahmat Tuhan dan tindakan kepercayaan masyarakat. Menatap ular itu berarti mengakui kelemahan mereka dan bersandar pada kuasa penyelamatan Tuhan . Narasi ini menyingkapkan keadilan dan kasih sayang Tuhan. Ular tidak pernah dimaksudkan untuk disembah, tetapi untuk mengarahkan Israel kembali kepada kuasa penyelamatan Tuhan. Kemurahan hati Tuhan adalah pesan utamanya. Bahkan ketika orang gagal, Tuhan menawarkan pengampunan dan jalan menuju penyembuhan. Kisah ini mendorong semua orang untuk jujur tentang perjuangan, ketidaksabaran, dan dosa. bukan untuk menyembunyikannya, melainkan untuk berbalik dan percaya kepada kasih dan rahmat Allah.

Bacaan kedua yang diambil dari surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi merupakan sebuah himne indah yang menyajikan misteri kerendahan hati dan kemuliaan Kristus. Ia mengingatkan kita bahwa meskipun Yesus setara dengan Tuhan, ia tidak berpegang teguh pada kemuliaan ilahi-Nya. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib.

Inilah paradoks yang kita rayakan pada hari raya pemuliaan salib. Apa yang dulunya merupakan simbol rasa malu dan penghinaan telah menjadi tanda kemenangan dan keselamatan. Secara historis, penyaliban merupakan hukuman paling merendahkan martabat di Kekaisaran Romawi, yang ditujukan bagi penjahat dan budak. Namun, justru melalui kematian yang memalukan inilah Kristus menyatakan dalamnya kasih Allah. Ketika kita memikul salib kita sendiri, entah itu penderitaan, penolakan atau pengorbanan, kita menyatukannya dengan Kristus. Dengan berbuat demikian, kita menemukan bahwa salib bukan sekadar beban, tetapi jalan menuju kemuliaan.

Injil hari ini yang diambil dari Yohanes menyingkapkan kasih Allah yang tanpa syarat yang mengulurkan tangan untuk menyelamatkan manusia. Suatu pesan yang berhubungan erat dengan perayaan pemuliaan salib. Perayaan pemuliaan salib menarik perhatian kita kepada suatu kebenaran penting. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi simbol kasih dan kemenangan Allah. Yesus tidak hanya mati untuk sahabat-sahabatnya tetapi juga untuk mereka yang menolak, mengejek atau membencinya. Cinta yang mengorbankan diri ini unik. Sejarah mencatat ada orang yang mati demi orang yang dicintainya. Tetapi Kristus mati bahkan untuk musuh-musuh-Nya. Namun, tidak semua orang terselamatkan secara otomatis . Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang percaya kepada- Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Namun keyakinan di sini berarti lebih dari sekadar persetujuan secara mental. Bagian ini mengundang tanggapan pribadi. Salib menantang setiap orang untuk mengasihi dengan penuh pengorbanan dan kesabaran sebagaimana Allah mengasihi semua orang dalam kondisi apa pun.

Lalu pertanyaan bagi kita adalah: Apa saja ular berbisa dalam kehidupan kita? Kebencian, kecanduan, ketakutan. Akankah kita tetap menatap mereka atau mengangkat mata kita ke salib? Ketika kita memandang salib dengan iman, kita menemukan pengampunan, penyembuhan, dan kehidupan baru. Salib mengingatkan kita bahwa cinta lebih kuat dari dosa dan kehidupan lebih kuat dari kematian. Meninggikan salib berarti hidup berdasarkan pesannya, memilih kasih daripada kebencian, pengampunan daripada balas dendam, dan harapan daripada keputusasaan. Jadi hari ini, marilah kita tidak hanya menghormati salib, tetapi memeluknya. Marilah kita arahkan mata kita kepada Yesus yang mengubah rasa sakit kita menjadi kesembuhan dan kekalahan kita menjadi kemenangan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.