Bacaan Injil Mrk 16:15-20
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Renungan
Injil menaruh di hadapan kita sebuah mandat yang sederhana namun mendalam: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Kata-kata ini bukan sekadar perintah misioner yang abstrak; ia memanggil setiap pengikut Kristus untuk keluar dari kenyamanan, menyingkap batas-batas keselamatan diri, dan menempatkan hidupnya sebagai alat kabar baik. Bagi Santo Fransiskus Xaverius, panggilan itu menjadi napas: menyeberangi samudra, menembus bahasa dan budaya yang asing, menaruh dirinya di antara orang-orang yang belum mengenal Kristus — bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menjadi tanda kebaikan Allah yang mengubah hati.
Markus menambahkan tanda-tanda yang menyertai pemberitaan: kuasa yang menyembuhkan, pengusiran roh jahat, bahkan tanda-tanda yang tampak luar biasa. Namun inti dari tanda-tanda itu bukan sensasi semata, melainkan keterlihatan belas kasih Allah yang menghendaki pemulihan manusia secara utuh — jasmani, batin, dan rohani. Dalam hidup dan karya Fransiskus Xaverius kita melihat semacam penerapan nyata: perhatian pada orang sakit, kesabaran belajar bahasa, kesungguhan berdoa — tindakan-tindakan kecil yang menyatakan bahwa Injil bukan sekadar doktrin tetapi kekuatan yang menyentuh hidup sehari-hari.
Refleksi misi tidak boleh mengabaikan luka-luka budaya dan sejarah. Mengabarkan Injil di dunia yang beragam menuntut kerendahan hati: mengakui bahwa bukan kita yang “membawa” nilai manusiawi paling murni, melainkan Kristus yang bertemu manusia di dalam segala kondisi mereka. Fransiskus Xaverius mengajari kita bahwa pewartaan yang sejati menghargai martabat budaya, mampu mendengarkan, dan mau membangun perjumpaan yang saling mengubah. Misi yang efektif bukan imperialisme rohani melainkan proses persekutuan yang saling memperkaya.
Keberanian misioner juga memerlukan keseimbangan antara tindakan dan doa. Markus menegaskan bahwa Yesus diangkat ke surga setelah Ia berbicara dan meneguhkan murid-murid — tindakan diikuti oleh berkat ilahi. Kita diingatkan bahwa usaha manusia untuk mewartakan Injil harus berakar pada kehidupan batin: doa, Sakramen, dan persaudaraan. Tanpa sumber itu, upaya misi menjadi sekadar strategi manusia; dengan sumber itu, ia menjadi partisipasi dalam karya Roh Kudus yang menghidupkan kembali hati umat.
Santo Fransiskus Xaverius menantang kita agar misi bukanlah wilayah eksklusif para imam atau religius saja. Injil yang sama memanggil setiap baptis untuk menjadi saksi di tempat kerjanya, lingkungan keluarganya, sekolah, dan komunitasnya. Tanda keseluruhan misi bukan hanya konversi spektakuler, melainkan kesetiaan yang konsisten: hadir di tengah penderitaan, berbagi makanan rohani dan lahir, membangun relasi jangka panjang, dan menjadi saksi akan keadilan dan belas kasih. Dalam konteks modern, tantangan misi juga berarti mendengarkan suara yang terluka oleh ketidakadilan, lingkungan, dan kemiskinan — serta menjawabnya dengan tindakan konkret.
Terakhir, perutusan Markus mengingatkan kita pada harapan eskatologis: Injil diberitakan sampai segala makhluk mendengarnya, dan pada akhirnya Allah menyempurnakan karya-Nya. Harapan ini memberi keteguhan di tengah kegagalan dan hambatan: misi bukan sekadar proyek manusia, melainkan partisipasi dalam janji Allah yang setia. Santo Fransiskus Xaverius, yang hidupnya berakhir jauh dari kampung halamannya, mengajak kita untuk percaya bahwa setiap butir usaha — doa, kata, pelayanan kecil — dimampukan untuk menjadi alat pewartaan yang diberkati.