Bacaan Injil Mat 23:13-21
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
(Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?
Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.
Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
Renungan
adalah mengubah segala sesuatu menjadi baik atau lebih baik dengan cara yang benar dan tujuan yang membuahkan hasil. Jika perubahan tidak menghasilkan buah yang baik dan berguna, maka itu bukan perubahan melainkan penyesatan. Lantas, siapa yang layak membawa perubahan itu?
Bacaan Injil hari ini memuat kata-kata Yesus yang sangat keras kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Kata “celakalah” mengandung konotasi sangat keras. Bisa berupa teguran tapi sekaligus kutukan bagi yang ditujukan. Apalagi dalam konteks biblis, penulis Injil Matius dan penulis Injil lain selalu menjadikan Kristus sebagai tokoh sentral. Maka kata celakalah seakan-akan menjadi cara menegur yang paling keras sebab Tuhan secara langsung menyebut para ahli Taurat dan orang Farisi, serta tidak lagi menggunakan kalimat-kalimat sarkasme, kalimat-kalimat yang pedas, kasar yang menghina. Celakalah kalian para ahli Taurat menjadi cara firman terakhir dari Tuhan yang hadir di tengah manusia untuk menegur segala bentuk kemunafikan manusia.
Makna dari kata-kata ini sebenarnya bukan terletak pada arti kata-katanya namun pada maknanya yang penting, yaitu ”kepedulian”. Kristus dalam bacaan Injil hari ini empat kali menyebut kata celakalah sambil menunjuk dengan jelas kelakuan para pemimpin agama Yahudi yang munafik. Dengan menyebut semua kelakuan para ahli Taurat dan orang Farisi, sebenarnya Kristus sebagai Tuhan menunjukkan kasih keBapaanNya kepada manusia, yaitu selalu memperhatikan dan mengawasi kita anak-anaknya.
Di samping itu cara kepedulian Tuhan kepada mereka adalah dengan menunjukkan sikap yang sederhana dan mau hidup berdampingan dengan sesama. Teladan kepemimpinan yang diberikan Kristus adalah kasih dan persaudaraan. Alasan lain mengapa Tuhan dengan keras berkata demikian sebab dia kecewa melihat para pemimpin agama Yahudi yang diharapkan mampu mengutamakan kasih dan pelayanan, malahan hanya memanfaatkan jabatan dan mengatasnamakan Allah untuk mencari keuntungan pribadi, kehormatan, dan nama baik mereka.
Santo Paulus pun dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tessalonika dengan keterbukaan dan kerendahan hati menghadirkan kembali teladan sang Guru, yaitu dengan kedekatan dengan semua orang. Perubahan yang dibawa Santo Paulus dengan mengabarkan Injil Kristus kepada mereka/jemaat di Tessalonika membawa buah yang besar dari penyembah berhala menjadi anak-anak Allah. Perubahan yang dilandaskan oleh kasih dan persaudaraan yang tulus seberapa keras dan tegas caranya akan menjadi lembut dan berbuah yang baik/benar oleh karena kasih. Amin. Tuhan memberkati.( RD.Richardus Pangkur)