Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus Serukan Tiga Pesan Utama dalam Misa Krisma di Bari: Kehadiran, Persatuan, dan Kesaksian

BARI – Keuskupan Labuan Bajo merayakan Misa Krisma dan Pembaharuan Janji Imamat yang dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, di Gereja Paroki St. Martinus Bari pada Jumat sore, 10 April 2026. Perayaan ini menjadi momen sakral bagi lebih dari seratus imam, baik diosesan maupun religius, untuk memperbaharui komitmen pelayanan mereka, sekaligus menjadi saat di mana minyak-minyak kudus—Minyak Krisma, Minyak Baptis, dan Minyak Pengurapan Orang Sakit—diberkati untuk pelayanan liturgi Gereja.

Dalam khotbahnya, Mgr. Maksimus Regus menekankan bahwa perayaan ini bukan sekadar rutinitas liturgis, melainkan perayaan tentang “gereja yang hidup,” di mana terjadi pertukaran gagasan, kerja sama, dan semangat persaudaraan yang nyata. Beliau menggarisbawahi tiga gagasan fundamental yang menjadi kebutuhan mendasar gereja saat ini:

1. Kehadiran yang Berbelas Kasih (Presensia)

Uskup Maksimus menekankan bahwa kehadiran Gereja tidak boleh hanya bersifat administratif, tetapi harus bersifat “inkarnatif” atau sungguh-sungguh nyata. Beliau menjelaskan bahwa kehadiran yang sejati adalah kehadiran yang penuh belas kasih—kehadiran yang mampu menyembuhkan luka, membawa transformasi, dan menyentuh hidup sesama. “Kita tidak hanya sekadar hadir, tetapi hadir dengan menunjukkan kekuatan belas kasih,” tegas Uskup Maksimus, seraya mengingatkan agar kehadiran Gereja tidak kehilangan maknanya karena terjebak dalam mekanisme agama yang kaku.

2. Membangun Persatuan (Komunio)

Gagasan kedua yang diangkat adalah pentingnya persatuan atau komunio. Di tengah tantangan fragmentasi atau keterpecahan yang sering menggoda umat untuk mengecualikan diri, Uskup mengajak Gereja untuk terus membangun persekutuan. Persatuan ini harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga, hingga komunitas paroki dan komunitas tempat Tuhan mengutus. Menurutnya, kehadiran yang berbelas kasih hanya mungkin terjadi jika didasari oleh semangat kesatuan yang kokoh dalam perjalanan iman bersama.

3. Menjadi Saksi Kristus Saat Ini (Testimonium)

Terakhir, Mgr. Maksimus menekankan aspek kesaksian. Beliau menegaskan bahwa menjadi saksi Kristus bukanlah sebuah hak istimewa (privilese) bagi segelintir orang, melainkan rahmat bagi semua umat beriman. Penting dicatat bahwa kesaksian ini tidak menunggu hari esok, melainkan harus diwujudkan “saat ini dan di sini”. Melalui kesaksian hidup yang setia dalam pelayanan, rahmat persatuan yang diterima Gereja dapat menjadi kekuatan yang mengokohkan iman dan membangun kembali pengharapan yang mungkin telah hilang.

Perayaan Misa Krisma di Bari ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen Keuskupan Labuan Bajo bahwa minyak-minyak yang diberkati adalah simbol kehadiran nyata Kristus melalui pelayanan Gereja yang diurapi sekaligus diutus ke tengah dunia.