Uskup Labuan Bajo Terbitkan Instruksi “Jumat Hening”: Ajak Umat Menemukan Allah dalam Keheningan dan Kepedulian Ekologis

LABUAN BAJO – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, secara resmi mengeluarkan Instruksi Pastoral Nomor: 82/II.1-KLB/III/2026 mengenai pelaksanaan “Jumat Hening” di seluruh wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Instruksi yang ditetapkan pada 31 Maret 2026 ini merupakan tindak lanjut atas kesepakatan bersama antara Gereja, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, unsur Forkopimda, serta tokoh lintas agama untuk membangun budaya refleksi dan kepedulian lingkungan.

Keheningan sebagai Ruang Perjumpaan Ilahi

Pelaksanaan “Jumat Hening” yang dijadwalkan pada 3 April 2026—bertepatan dengan Hari Jumat Agung—memiliki makna teologis yang mendalam. Mgr. Maksimus menekankan bahwa keheningan bagi umat Katolik bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang rahmat untuk berjumpa dengan Allah dan mendalami misteri sengsara serta wafat Yesus Kristus.

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah,” demikian kutipan Mazmur 46:11 yang melandasi instruksi ini. Seluruh umat diimbau untuk berpartisipasi aktif dengan mengurangi aktivitas di luar rumah dan memanfaatkan waktu untuk doa pribadi, meditasi Kitab Suci, serta devosi seperti Jalan Salib dan Doa Kerahiman Ilahi.

Aturan Teknis dan Jam Hening

Dalam instruksi tersebut, Uskup menetapkan waktu khusus keheningan yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu:

  • Pukul 06.00 – 11.00 WITA
  • Pukul 14.00 – 18.00 WITA.

Selama jam-jam tersebut, seluruh kegiatan Gereja di luar liturgi yang tidak mendesak akan ditunda. Selain itu, perayaan liturgi seperti Jalan Salib dan Ibadat Jumat Agung akan dijalankan dengan suasana yang lebih sederhana, tenang, dan khidmat, dengan penggunaan pengeras suara yang dibatasi seminimal mungkin.
Tanggung Jawab Ekologis dan Kesaksian Publik Selaras dengan semangat ensiklik Laudato Si’, instruksi ini juga menekankan aspek kepedulian ekologis. Umat diajak untuk melakukan aksi nyata melalui:

  • Pengurangan penggunaan energi listrik.
  • Pembatasan pemakaian kendaraan bermotor dan minimalisir penggunaan plastik.
  • Anjuran untuk berjalan kaki menuju gereja atau tempat ibadah pada jam-jam hening yang ditentukan.

Partisipasi aktif umat dalam gerakan ini diharapkan menjadi tanda nyata kehadiran Gereja dalam membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis dan seimbang. Mgr. Maksimus berharap momen ini menjadi kesempatan rahmat bagi semua orang untuk kembali ke kedalaman hati dan memperbarui hidup dalam terang misteri Salib Kristus.