LABUAN BAJO – Universitas Bina Nusantara (Binus) secara aktif mengambil bagian dalam perhelatan akbar Festival Golo Koe 2026 yang diselenggarakan di Waterfront City, Labuan Bajo, pada 10—15 Agustus 2026. Keterlibatan ini merupakan wujud nyata dari misi universitas untuk membina dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam festival yang mengusung tema “Ziarah Komunal Dalam Persekutuan Sinergis Untuk Merawat Keutuhan Ciptaan” ini, Binus berkolaborasi dengan panitia untuk membuka lima booth pameran. Booth tersebut menampilkan berbagai produk unggulan dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di bawah pendampingan langsung tim Binus.
Kolaborasi Strategis dengan Keuskupan dan Pemerintah

Keterlibatan Binus di Manggarai Barat sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2024 melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Fokus utama dari kerja sama ini adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta pengembangan usaha UMKM guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Saat ini, Binus tengah memperluas jangkauan pemberdayaannya dengan melakukan pembinaan di sektor paroki di Keuskupan Labuan Bajo. Tercatat ada 12 paroki yang menjadi sasaran proyek pendampingan Binus untuk meningkatkan kapasitas umat dan potensi ekonomi lokal di tingkat akar rumput.
Perwakilan Binus, Prof. Dezie L. Warganegara, PhD, menjelaskan bahwa sinergi antara agama, budaya, dan pendidikan sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat di destinasi wisata super prioritas seperti Labuan Bajo.
“Kita ingin supaya masyarakat di sini ikut berkontribusi dan menikmati kemajuan perekonomian dari Labuan Bajo yang sudah mencapai level nasional,” ujar Prof. Warga dalam wawancara dengan Media Komsos Labuan Bajo. Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat lokal adalah kunci agar pariwisata di Manggarai Barat dapat bersifat berkelanjutan.
Melalui partisipasi di Festival Golo Koe, Binus berharap produk-produk hasil dampingan mereka semakin dikenal luas, sekaligus mempertegas posisi perguruan tinggi sebagai katalisator perubahan yang berdampak langsung bagi masyarakat luas, sejalan dengan visi pemberdayaan yang mereka usung.