Doa dalam Gerak: Devosi Agung Maria Assumpta Nusantara Getarkan Waterfront Labuan Bajo

LABUAN BAJO, 13 Agustus 2026 – Suasana khidmat dan agung menyelimuti kawasan Waterfront City Marina pada Rabu, 12 Agustus kemarin, saat ribuan pasang mata menyaksikan Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara. Pertunjukan ini menjadi puncak dari rangkaian Karnaval Budaya dalam gelaran Festival Golo Koe 2026, yang mengekspresikan devosi mendalam masyarakat Katolik kepada Bunda Maria.

Tarian kolosal yang dibawakan dengan apik oleh 550 siswa-siswi SMKS Stella Maris Labuan Bajo ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah “doa dalam gerak” dan sembah sujud budaya. Dalam narasi pementasannya, Bunda Maria diangkat sebagai sosok ibu yang setia merangkul dan merangkum seluruh umat manusia dalam doa-doanya kepada Tuhan, tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun golongan.

Kehadiran Maria dalam festival ini dimaknai sebagai simbol kasih sayang yang menyatukan kebinekaan Nusantara. Hal ini terlihat nyata dalam barisan karnaval yang melibatkan 1.584 peserta dari 53 kontingen, mulai dari paguyuban etnis Rote, Jawa, Sumba, hingga Lamaholot, yang semuanya berjalan beriringan dalam semangat kerukunan dan toleransi di “Rumah Bersama” Labuan Bajo.

Ibu bagi Alam Lingkungan

Selaras dengan tema besar festival tahun ini, “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”, tarian ini juga menegaskan peran Maria sebagai ibu bagi seluruh ciptaan, termasuk alam lingkungan. Iman umat Katolik di Manggarai digambarkan menyatu dengan budaya yang sangat menghargai kelestarian alam sebagai anugerah Tuhan.

Pesan ekologis ini diperkuat melalui formasi tarian yang dibentuk oleh para penari, antara lain:

  • Formasi Lingko: Pola pembagian tanah adat Manggarai berbentuk jaring laba-laba yang melambangkan kearifan lokal dalam mengelola bumi dengan adil.
  • Formasi Rumah Gendang (Mbaru Niang): Lengkap dengan simbol Compang (altar), yang melambangkan pusat kehidupan dan keadilan bagi masyarakat dan alam sekitarnya.

Pementasan kolosal ini diiringi oleh musik inkulturatif, puisi, dan torok (deklamasi adat) Manggarai yang menggugah kesadaran untuk tidak serakah terhadap alam. Melalui tarian ini, penonton diajak berefleksi agar tidak hanya sibuk menghitung keuntungan pariwisata hingga melupakan bahwa alam adalah titipan yang harus dijaga demi masa depan.

Karnaval dan tarian kolosal ini juga menjadi bagian dari gebyar menyongsong HUT Kemerdekaan RI ke-81. Acara ditutup dengan sikap hening saat arca Bunda Maria Assumpta dihantar menuju tempat pentakhtaan sementara, meninggalkan pesan mendalam tentang persaudaraan sejati dan komitmen untuk terus “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi”.