Uskup Labuan Bajo Kunjungi RSUD Komodo: Rayakan Misa bersama Keluarga Pasien dan Bagikan Tiga Kunci Harapan Pascagempa

LABUAN BAJO, 23 Agustus 2026 – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, bersama Vikaris Jenderal (Vikjen) Romo Richard Manggu, sejumlah imam, biarawati, dan tim tanggap bencana Caritas Keuskupan Labuan Bajo melakukan kunjungan kemanusiaan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Kunjungan ini merupakan bagian dari aksi tanggap darurat pascabencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores, termasuk Labuan Bajo, pada Sabtu pekan lalu. Akibat guncangan gempa tersebut, pelayanan medis bagi para pasien di RSUD Komodo terpaksa dialihkan dan dilakukan di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman depan rumah sakit.

Dalam kunjungan tersebut, Mgr. Maksimus Regus memimpin perayaan Misa Kudus di pendopo rumah sakit yang diikuti dengan khidmat oleh keluarga pasien serta para tenaga kesehatan. Setelah perayaan Misa selesai, Uskup menyapa para pasien satu persatu di tenda perawatan dan mendoakan kesembuhan mereka.

Menemukan Tuhan di Tengah Kerapuhan

Dalam khotbahnya, Mgr. Maksimus Regus membagikan refleksi mendalam mengenai arti bencana dan kehadiran Tuhan di tengah situasi sulit. Beliau mengenang kembali pengalamannya bersama Romo Richard saat menghadapi gempa besar di Maumere 32 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1992. Pengalaman tersebut mengajarkan betapa manusia secara spontan akan selalu berseru kepada Tuhan saat bencana melanda, yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga relasi dengan Sang Pencipta.

Uskup menekankan bahwa bencana ini memperlihatkan dua sisi kehidupan: di satu pihak menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan manusia, namun di pihak lain menunjukkan betapa besarnya kasih Tuhan kepada umat-Nya. Merujuk pada bacaan Injil, Uskup menguraikan tiga hal penting:

  1. Pengakuan akan Tuhan di Tengah Perjalanan

Uskup menjelaskan bahwa Yesus bertanya kepada para murid mengenai siapa diri-Nya bukan di dalam kenisah atau rumah ibadah, melainkan dalam sebuah perjalanan di tengah alam bebas. Hal ini menunjukkan bahwa pengenalan akan Tuhan sejati lahir dari pengalaman perjumpaan nyata dan tindakan kasih, bukan sekadar konsep di kepala. “Siapakah Tuhan bagi saya di tengah bencana ini?” tanya Uskup. Di tengah situasi sulit ini, Uskup mengajak umat untuk melihat Tuhan hadir di antara sesama melalui semangat kesetiakawanan, termasuk melalui para pelayan medis yang bertindak bagaikan tabib yang menyembuhkan.

  1. Gereja sebagai “Batu Karang” yang Saling Menopang

Uskup merefleksikan simbol “Batu Karang” yang kokoh di tengah kerapuhan umat yang saat ini cemas dan terpaksa tidur di luar rumah. Uskup mengingatkan bahwa ketika bangunan gereja fisik retak atau hancur akibat gempa, gereja yang sesungguhnya yang berdiri di atas batu karang adalah komunitas iman yang saling menopang. Simbol kekokohan ini tercermin dari dedikasi para dokter dan perawat di RSUD Komodo yang terus bersiaga melayani pasien tanpa lelah di tengah keterbatasan bencana.

  1. Tiga “Kunci” Surga di Tengah Bencana

Mengacu pada kunci kerajaan surga yang diserahkan Yesus kepada Petrus, Uskup menerangkan bahwa dalam situasi bencana ini, terdapat tiga kunci penting yang menghadirkan suasana surga bagi sesama:

  • Kunci Belas Kasih: Cerita tentang belas kasih dan empati yang mengalir dari berbagai tempat, baik di posko pengungsian maupun dari donatur yang berada jauh.
  • Kunci Solidaritas: Sikap solider yang ditunjukkan oleh para relawan kemanusiaan yang berani menembus bahaya, bahkan melintasi jembatan-jembatan yang telah diberi tanda silang (rusak), demi mengantarkan bantuan kepada keluarga terdampak.
  • Kunci Harapan: Iman, harapan, dan kasih yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus berjalan bersama, saling bergandengan tangan, dan saling menopang melewati masa-masa sulit.

Uskup mengakhiri khotbahnya dengan doa agar keluarga besar RSUD Komodo serta seluruh tenaga medis di mana pun berada senantiasa diberi kekuatan dan penghiburan. Melalui pengabdian dan tangan-tangan kasih para tenaga medis serta relawan, Tuhan hadir dan merawat kehidupan setiap orang yang sedang terluka.