Malam Paskah di Sernaru: Mgr. Maksimus Regus Ajak Umat Temukan Kristus dalam “Galilea” Kehidupan Nyata

LABUAN BAJO – Ribuan umat Katolik memadati Gereja St. Petrus Sernaru, Labuan Bajo, untuk merayakan Malam Paskah yang dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus. Upacara yang berlangsung khidmat tersebut dimulai pada pukul 20.30 WITA dengan prosesi perarakan Lilin Paskah sebagai simbol Kristus yang menjadi terang dunia.

Dalam homilinya yang bertajuk “Ia Mendahului Kita ke Galilea: Iman yang Bangkit, Bergerak, dan Bersaksi,” Mgr. Maksi menekankan bahwa Paskah adalah momen transisi dari kegelapan menuju terang, serta dari duka menuju harapan. Beliau menyoroti kisah Injil Matius tentang batu makam yang digulingkan, yang menurutnya bukan untuk membiarkan Yesus keluar, melainkan agar para murid bisa melihat dan percaya bahwa maut telah dikalahkan.

“Paskah menegaskan bahwa tidak ada batu yang terlalu berat bagi Allah,” ujar Mgr. Maksi. Beliau menjelaskan bahwa “batu” tersebut dapat berupa beban hidup nyata yang dialami umat, seperti kelelahan dalam perjuangan hidup, tekanan ekonomi keluarga, hingga ketegangan sosial.

Poin utama yang ditekankan Uskup adalah makna simbolis “Galilea”. Beliau menjelaskan bahwa Galilea bukanlah sekadar lokasi geografis, melainkan ruang keseharian umat: di rumah tangga, pasar, kantor, ladang, hingga laut. Kristus yang bangkit, menurut Mgr. Maksi, tidak menunggu di makam, melainkan sudah mendahului umat ke dalam ruang-ruang kehidupan nyata tersebut.

“Kristus yang bangkit sudah mendahului kita ke Galilea Labuan Bajo: ke rumah-rumah umat, ke pesisir, ke jalan pelayanan, dan ke masa depan Keuskupan kita,” tegasnya.

Mgr. Maksi mengajak seluruh umat untuk tidak terjebak dalam “makam” atau luka masa lalu, melainkan berani bergerak menuju “Galilea” masing-masing dengan semangat baru. Beliau berpesan agar umat kembali ke keluarga dan masyarakat dengan hati yang dipulihkan, menjadi saksi Kristus melalui cara mengampuni, melayani, dan menjaga persaudaraan.

Perayaan Malam Paskah di Gereja Sernaru ini menjadi momentum bagi umat di Labuan Bajo untuk memperkuat iman bahwa kebangkitan Kristus harus mewujud dalam kesaksian hidup sehari-hari, mengubah ketakutan menjadi keberanian dan sukacita besar.