LABUAN BAJO – Keuskupan Labuan Bajo resmi memulai langkah strategis dalam memperkuat pelayanan bagi kaum difabel melalui rencana kerja sama dengan Caritas Italiana dan Caritas Indonesia. Kolaborasi ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan Kunjungan Lapangan dan Verifikasi Data Program Community Based Inclusive Development (CBID) yang berlangsung pada 16-19 Juni 2026.
Program CBID sendiri merupakan pendekatan berbasis masyarakat yang bertujuan mendorong hak, partisipasi, dan pemberdayaan penyandang disabilitas agar memiliki akses setara terhadap kesehatan, pendidikan, dan mata pencaharian. Langkah konkret ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan minat Keuskupan Labuan Bajo untuk mengimplementasikan Rencana Strategis 2023-2027 yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat inklusif.
Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, RD Yuvens Rugi, menyatakan kesiapannya untuk mengeksekusi proyek kerja sama ini. “Kami telah berkoordinasi dengan paroki-paroki, pemerhati kaum difabel, serta komunitas difabel di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Barat,” ungkapnya. Saat ini, data dasar telah terkumpul dan akan segera ditindaklanjuti dengan asesmen mendalam. Lebih lanjut ia menyatakan kehadiran Caritas Italiana di Labuan Bajo sejalan dengan visi dan misi Keuskupan Labuan Bajo yang memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan dan kaum difabel.

Rangkaian Verifikasi di Lapangan
Selama empat hari kunjungan, tim gabungan dari Caritas Indonesia dan Caritas Italiana melakukan berbagai agenda penting, di antaranya:
- Pertemuan Strategis: Mendiskusikan sektor prioritas intervensi dan pemahaman umum kondisi penyandang disabilitas di wilayah keuskupan.
- Penjangkauan Masyarakat (Community Outreach): Mengunjungi langsung lima keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas untuk memahami hambatan harian yang mereka hadapi.
- Diskusi Bersama OPDs: Melibatkan tujuh Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDs) untuk menggali rekomendasi dan langkah inklusif di masa depan.
Peran Para Pihak Dalam kerja sama ini, Caritas Italiana berperan memberikan dukungan teknis dan memastikan program selaras dengan standar internasional pemberdayaan disabilitas. Sementara itu, Caritas Indonesia (Karina KWI) bertindak sebagai koordinator pelaksana dan fasilitator komunikasi antara pihak Italia dan keuskupan. Keuskupan Labuan Bajo sendiri memegang peran kunci dalam menyediakan data, memfasilitasi kunjungan ke paroki-paroki, serta menunjukkan komitmen keberlanjutan program di tingkat akar rumput.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi refleksi bersama untuk merancang sistem yang lebih inklusif guna menjawab tantangan yang ditemukan di lapangan. Melalui program CBID ini, Keuskupan Labuan Bajo berharap dapat membangun komunitas yang lebih tangguh, adil, dan berkeadilan bagi semua warganya.