Uskup Labuan Bajo Dikukuhkan Sebagai Guru Besar di UNIKA St Paulus Ruteng

RUTENG, 8 Mei 2026 – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng mencatatkan sejarah baru dalam dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pengukuhan dua guru besar baru, yakni Prof. Dr. Sabina Nendiung, M.Pd. dan Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si.. Acara yang berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka di Aula Gedung Utama Timur Lantai 5 ini dihadiri oleh jajaran pejabat penting, termasuk Gubernur NTT, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, serta para pimpinan daerah dari wilayah Manggarai Raya.

Mencetak Sejarah: Pasangan Profesor dan Uskup-Guru Besar

Pengukuhan ini tidak hanya menambah jumlah guru besar di Unika Santu Paulus Ruteng menjadi lima orang, tetapi juga menorehkan catatan unik. Prof. Sabina Nendiung merupakan profesor keempat di kampus tersebut, sekaligus menjadi bagian dari pasangan suami-istri pertama di NTT yang secara serentak menyandang gelar profesor bersama suaminya, Prof. Sebastianus Menggo.

Sementara itu, Prof. Maksimus Regus, yang juga menjabat sebagai Uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo, dikukuhkan sebagai profesor kelima. Ia tercatat sebagai uskup pertama di NTT yang meraih gelar akademik tertinggi ini dan merupakan satu-satunya tokoh agama Katolik serta Kristen di wilayah tersebut dengan jabatan fungsional Guru Besar.

Orasi Ilmiah: Navigasi Ketidakpastian

Kedua profesor baru tersebut menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti isu-isu krusial di era modern. Prof. Sabina Nendiung menyampaikan pidato berjudul “Menghapus Takut, Menumbuhkan Nalar, Menghidupkan Matematika melalui Pembelajaran yang Menggembirakan”. Ia menekankan transformasi pembelajaran matematika di sekolah dasar menggunakan metode Project Based Learning (PJBL) dan Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk mengubah stigma matematika yang menakutkan menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual.

Prof. Maksimus Regus membawakan orasi berjudul “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Menuju Kajian Trans-Sosiologis”. Dalam pidatonya, ia memberikan kritik tajam terhadap “kerakusan kapitalisme” yang merusak bumi dan mengeksplorasi peran agama sebagai kekuatan moral dan reflektif dalam menghadapi krisis ekologis global.

Apresiasi dan Harapan Pembangunan

Gubernur NTT dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam dan menyatakan bahwa lahirnya para profesor ini adalah pesan kuat bahwa NTT mampu melahirkan pemikiran-pemikiran berskala internasional meskipun dianggap sebagai daerah pinggiran. Beliau berharap Unika Santu Paulus Ruteng terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam riset dan inovasi pembangunan.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Adrianus Amheka, menegaskan bahwa gelar profesor merupakan bukti komitmen dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia berharap kehadiran kedua “Academic Leader” ini dapat meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas SDM di NTT.

Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Romo Agustinus Manfred Habur, menyatakan rasa bangganya atas pencapaian ini. Ia menekankan bahwa pengukuhan ini merupakan awal bagi kedua profesor untuk terus berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan Indonesia, serta menjadi teladan bagi dosen dan mahasiswa dalam menumbuhkan sikap ilmiah di kampus.

Acara ditutup dengan prosesi pengalungan tanda guru besar oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XV dan sesi foto bersama sebagai bentuk syukur atas pencapaian akademik yang gemilang bagi komunitas Unika Santu Paulus Ruteng.